Secara keseluruhan ekonomi makro Indonesia masih berada pada track yang favourable. Namun, potensi pelemahan ekonomi AS karena masalah pecahnya property bubble di AS, bisa mengancam ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Hal itu diungkapkan GOEI SIAUW HONG CFA dari GSH Consulting dalam “Bincang-Bincang Pasar Modal” di Hotel Sheraton, Selasa (28/08) malam.
Ekonomi makro Indonesia, menurut GOEI, tumbuh pada upward trend. Ini didorong mulai membaiknya investasi dan perkiraan GDP pada tahun 2008 dapat mencapai 6%-6,5%, serta asumsi soft-lending di AS. Di samping itu, pertumbuhan PPN meningkat menambah indikator ekonomi mulai membaik.
“Inflasi juga masih terkendali, tetapi ruang penurunan SBI terbatas. Juli lalu, inflasi 0,72% dan inflasi year on year 6,06%. SBI pada 8.25% hanya memberikan sekitar 2% real return dengan catatan dalam periode tightening bias oleh ECB, BOJ, dan kemungkinan The Fed serta berbagai indikator ekonomi makro di AS tidak menunjukkan tanda-tanda pelemahan,”paparnya.
Dampak langsung dari sub-prime lending ke Indonesia, kata GOEI, terbatas. Dampak tidak langsung, berupa hilangnya likuiditas global, dan resesi AS bisa mempengaruhi Indonesia.
Saat ini di AS tidak hanya terjadi sub-prime mortgage saja, tapi sudah merambah ke kartu kredit dengan default 30%. Menurut perkiraan, tegas GOEI, subprime credit di AS yang telah mengalami foreclosure berjumlah US$ 180 milyar atau sekitar 1,5% dari US GDP.
Keengganan The Fed untuk menciptakan moral hazzard bisa menyebabkan the Fed berada pada posisi behind the curve. “Bila Fed behind the curve, maka ekonomi dunia akan terpengaruh oleh resesi di AS. Yang kita alami jika terjadi resesi di AS adalah penurunan ekspor dan penurunan harga komoditas. Namun dampak resesi AS di Indonesia relatif kecil, karena sektor personal consumption 2/3 dari ekonomi nasional. Kemungkinan full blown crisis di Indonesia terbatas,”tukasnya.
GOEI menjelaskan masalah subprime lending/mortgage tidak lepas dari housing bubble di AS. Kenaikan harga properti di AS yang berlangsung selama beberapa tahun terakhir, ditambah dengan kebijakan suku bunga ALAN GREENSPAN yang longgar menyebabkan pemilik dana berspekulasi dengan properti.
Pada saat bubble, investor rumah membeli rumah untuk dijual dalam beberapa bulan saja (spekulasi perumahan marak sampai tahun lalu). Harga properti yang naik, juga mendorong developer membuat perumahan baru. Akibatnya oversupply perumahan. Saat ini ada sekitar 2,5 juta unit rumah disita.
GREENSPAN menghidupkan kembali bubble yang ada dengan memotong suku bunga secara agresif. Dengan memotong suku bunga secara agresif, calon pembeli rumah bisa mendapatkan rumah dengan harga lebih memadai. Namun, ini akan menciptakan bubble yang lebih besar yang akhirnya harus dihadapi oleh AS.
“Bila melihat aksi BERNANKE (Fed Chairman) dan PAULSON (Treasury Secretary) beberapa waktu terakhir, terlihat keengganan menciptakan moral hazzard. Yang dikhawatirkan Fed adalah risiko sistemik pada perbankan. Namun karena sub-prime lending dan KPR umumnya banyak yang disekuritisasi, dampak perbankan relatif kecil. Dalam pasar yang rasional, risiko rush pada perbankan relatif kecil,”pungkasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

