Produsen kulit sapi Jawa sampai saat ini lebih memilih mengekspor produksinya daripada memenuhi pasar dalam negeri. Pemicunya, harga di luar negeri sangat menjanjikan.
Disparitas antara harga jual kulit sapi Jawa di luar negeri dan dalam negeri, bisa mencapai US$ 2 per square feet. Biasanya diekspor dalam bentuk setengah jadi, dan jika diolah harganya semakin mahal.
Apalagi, kualitas kulit sapi Jawa merupakan kualitas terbaik kulit dunia. Sebagian besar, ekspornya ke Italia, Jerman, Belanda, dan China .
Hanya saja kondisi tersebut, menurut ALI MAS’UD Ketua Indonesian Footwear Service Center (IFSC), menyebabkan harga bahan baku kulit sapi Jawa melonjak tinggi. Jumlah kulit sapi semakin langka untuk kebutuhan dalam negeri. Saat ini, kenaikannya berkisar antara 15% hingga 20%.
Pada suarasurabaya.net, Selasa (11/12), ALI mengatakan, berbeda dengan pasar dalam negeri, dimana kendala pembayaran masih menjadi hambatan. Umumnya, para pengusaha pemanfaat dari produk kulit, seperti pengusaha tas, koper dan sepatu, menunggak pembayaran.
“Ini bisa dimengerti, karena daya beli masyarakat yang menyebabkan perputaran keuangan perusahaan. Akibatnya bisa ditebak, terjadi tunggakan,”ujarnya.
Selain itu, tidak menariknya pasar dalam negeri juga dikarenakan, pasar ini selalu selektif dalam memilih kulit. Akibat langkanya kulit sapi, terpaksa produsen produk kulit harus mengimpor bahan baku , yang harganya juga mahal.
ALI memperkirakan pada 2010 jumlah populasi sapi Jawa akan habis. “Ini penting, mengingat pemerintah hendak membuat klaster sepatu. Klaster ini akan terhambat apabila produsen kekurangan bahan baku ,” pungkasnya.
Kelangkaan kulit sapi Jawa juga diakui SUTJIPTO HARSONO Ketua Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI) Jawa Timur. Hingga kini para pabrikan kulit tidak memiliki buffer stock.
Akibatnya, saat pemesanan dari industri sepatu datang, hal tersebut tidak terpenuhi. ”Kapasitas terpasang dari produksi pabrik kulit cukup besar, atau dikisaran 18 hingga 50 ton per hari. Tapi, dengan stagnasi bahan baku ini, yang bisa terpenuhi hanya 30% hingga 40% saja,”ungkapnya.
HARSONO menambahkan, sekitar 40% bahan kulit sapi Jawa didapat dari Jawa Timur, Jawa Tengah sekitar 30%, dan Jakarta 20%. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

