Kamar Dagang dan Industri (Kadin) minta pemerintah memperhatikan nasib sektor industri manufaktur yang menggunakan BBM non subsidi.
Tidak bisa dipungkiri naiknya harga minyak dunia berpengaruh pada komponen biaya dan pada gilirannya komoditi yang dihasilkan sebagai produk akan naik. Sedangkan pasar domestik belum kuat.
MS HIDAYAT Ketua Kadin pada JOSE reporter Suara Surabaya di Jakarta, Kamis (22/11), mengatakan dengan fakta ini pemerintah jangan hanya bicara soal APBN yang cukup aman menghadapi gempuran tingginya minyak dunia. Tapi seharusnya juga peduli dengan sektor industri manufaktur, karena harus menanggung biaya yang lebih tinggi. Berikut penjelasan HIDAYAT, {clip*1}.
Meski harga minyak dunia sudah menembus US$ 99,26 per barrel, dalam hitungan Menteri Keuangan, melejitnya kenaikan harga minyak dunia memberi surplus penerimaan minyak dan gas antara Rp 0,3 trilyun sampai Rp 0,5 trilyun setelah dipotong pengeluaran. Akibatnya kebutuhan BBM yang meningkat dipicu kenaikan harga minya dunia bisa ditutup dengan meningkatnya penerimaan dari hasil ekspor minyak. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

