Dana yang dibutuhkan untuk membenahi pipa gas Pertamina yang meledak pada November 2006 lalu di Porong sebesar Rp 140 milyar.
TOHARSO Kepala Divisi Komunikasi Pertamina usai acara Talk Show Pertamina Goes To Campus di Graha ITS, Rabu (04/04) pada suarasurabaya.net mengatakan, Pertamina juga menjadi korban luapan lumpur Porong waktu pipa gas Pertamina meledak.
TOHARSO menuturkan, pipa gas itu dari Kangean disalurkan lewat bawah laut sepanjang 450 km, dan tembusnya di daratan Sidoarjo untuk disalurkan ke industri-industri besar yang ada di sekitar Sidoarjo.
Awalnya, kata TOHARSO, pipa berdiameter 28 inch itu mengalirkan gas sebanyak 145 mmscfd (120 juta kaki kubik perhari) dan ditanam 2 meter di bawah tanah. Karena lumpur meluap dan tanah ambles menyebabkan pipa gas itu patah dan akhirnya meledak. Sekitar 13 orang menjadi korban.
“Disini Pertamina memiliki Corporate Social Responsibility (CSR) untuk menanggung semuanya,” ujar TOHARSO.
Untuk mengatasi hal itu, Pertamina menyiapkan 3 skenario. Yang pertama dengan cara diblock. Pipa gas yang meledak itu diblok lalu gas dialirkan lewat cabang-cabang sebanyak 90 juta kaki kubik perhari.
Skenario yang kedua, Kata TOHARSO, dengan cara by pass pipe yakni tidak ditanam melainkan dialirkan melalui pipa di atas tanah sepanjang 3 km. Tiap 10 meter disangga dengan kedalaman penyangga 50 meter di bawah tanah.
Dan yang ketiga, dengan cara relokasi. Pipa dialirkan memutar, menyusuri sungai Porong sebelah Barat sepanjang 14 km. Dana yang dibutuhkan Pertamina untuk menanggung pipa gas ini sebesar Rp 140 milyar.
“Pertamina akan klaim Rp 140 milyar ke Lapindo melalui Timnas, namun Pertamina juga sangat berharap pada Timnas agar lumpur tidak meluber lagi, walaupun waktu kerja Timnas tinggal 4 hari,” papar TOHARSO.
Teks Foto:
– TOHARSO Kepala Divisi Komunikasi Pertamina.
Foto : MUNING suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

