Senin, 19 Oktober 2026
Kedubes Afrika Selatan

Promosi Wine Industry di 3 Kota

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Industri wine Afrika Selatan mampu mengkontribusikan US$ 2,3 milyar pada GDP Afrika Selatan. Dari kontribusi tersebut, US$ 600 juta-nya berasal dari aktivitas wine tourism, yang berpusat di daerah-daerah penghasil wine-nya.

JOHAN KLOPPER First Secretary Kedutaan Besar Afrika Selatan dalam siaran pers yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (23/03), menyebutkan, Afrika Selatan sekarang ini merupakan negara dengan volume produksi wine kesembilan terbesar dan menghasilkan 3,1% dari seluruh wine di dunia. Sekitar 257,000 orang secara langsung maupun tak langsung diperkerjakan oleh industri wine Afrika Selatan.

Meskipun Afrika Selatan menghasilkan 3,1% dari seluruh wine di dunia, promosinya dilakukan terus menerus. Seperti roadshow di 3 kota di Indonesia yang dimulai di Sultan Hotel Jakarta, Kamis (22/03) malam, Sheraton Surabaya Hotel & Tower pada Sabtu (24/03) besok dan Westin Resort Bali pada 26 Maret mendatang.

Menurut JOHAN, acara promosi ini diikuti 11 wineries independen terkenal dari Afrika Selatan yakni Tulbagh Mountain Vineyards, De Wetshof Estate, Kaapzicht Wine Estate, Linton Park Wines, Reyneke Wines, Mont Du Toit, Ridgeback Wines, Anura Vineyards, Lammershoek Winery, Ses’fikile dan Ingwe Wine Estate.

Industri wine di Afrika Selatan, papar JOHAN, diawali aktivitas JAN VAN RIEBEECK gubernur pertama di daerah Cape (semenanjung) di Afrika Selatan pada tahun 1655. Wine pertama dibuat dari buah anggur Cape pada 2 Februari 1659. Setelah itu, diikuti oleh penanaman kebun-kebun anggur dalam skala besar di Roschheuvel, yang sekarang dikenal dengan nama Bishopscourt di Wynberg.

“Pada awalnya ada banyak tantangan yang harus dihadapi industri ini dan masalah yang paling besar adalah kurangnya pengetahuan para penanam anggur akan viticulture (ilmu pembudidayaan anggur unggul). Namun hambatan ini bisa diatasi setelah SIMON VAND STEL pada tahun 1679. Ia sangat paham tentang viticulture dan proses pembuatan wine. Dia membuka sebuah kebun anggur di pertaniannya di Constantia dan langsung berhasil membuat wine bermutu tinggi,”paparnya.

Hingga saat ini wine dari Constantia masih dianggap satu diantara wine terbaik di dunia. Namun bangsa Belanda, sebelumnya tidak memiliki tradisi wine dan hanya setelah kaum Huguenots dari Prancis mulai tinggal di Cape pada tahun 1680-1690-lah industri wine Afrika Selatan mulai berkembang.

Secara historis, negara-negara Eropa sebagai Old World Wine Producers, memiliki cengkraman kuat pada pasar-pasar wine dunia karena citra kualitas dan kemampanan yang dimilikinya. Para New World Wine Producers sekarang sedang berusaha menggulingkan dominasi Eropa dalam industri ini dengan membuat varietas-varietas dan label baru secara agresif. Namun Afrika Selatan, adalah sebuah kasus yang unik karena ia dianggap baik sebagai sebuah Old World Wine Producer (wine telah diproduksi di negara ini selama lebih dari 300 tahun) dan juga sebuah New World Wine Producer.

Dengan hilangnya batasan-batasan politis dan pengakuan atas ketidakadilan di masa lalu Afrika Selatan, sekarang ini untuk pertamakalinya telah bermunculan juga para petani anggur dan pembuat wine dari komunitas-komunitas yang dulunya dimarginalisasi. Sejumlah perkebunan anggur, termasuk Reyneke Wines dan Ingwe Wine Estate, telah tercipta dari joint venture dengan para pekerja-pekerja lapangannya ataupun dengan perusahaan-perusahaan yang dimiliki kalangan berkulit hitam sehingga dimungkinkan terjadinya pembagian kepemilikian kebun ataupun penyaluran pengetahuan tentang budidaya anggur dan pembuatan wine.

Teks foto :
1. Buah anggur disortir untuk mendapatkan kualitas wine yang bermutu
2. Beragam wine produk Afrika Selatan saat ini dipromosikan di Indonesia
Foto : Istimewa

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
33o
Kurs