Senin, 19 Oktober 2026

UKM Tidak Menikmati Penurunan Bunga Kredit Perbankan

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Meskipun bunga kredit perbankan terus turun, usaha kecil menengah (UKM) tetap tidak bisa menikmatinya. Pasalnya, persyaratan untuk mengaksesnya masih sangat berbelit dan cukup panjang bagi UKM.

Ir SYAHPUTRA Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Jumat (23/03), menilai perbankan tidak berpihak pada UKM. Mereka lebih gencar mengucurkan dana untuk sektor konsumtif, seperti mobil, rumah serta berbelanja.

Katidakadilan perbankan terhadap UKM, menurut SYAHPUTRA, nampak dari tidak masuknya sektor ini ke dalam 10 industri strategis yang berpotensi mendapatkan kredit perbankan. Satu diantaranya, industri mebel dan rotan. Adapun alasan mereka enggan terlalu agresif masuk ke UKM, karena sektor ini sangat rentan terjadinya kredit macet.

Hal ini berbeda dengan sektor lain, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) yang justru tahun ini mendapat dukungan dana, baik perbankan maupun pemerintah. Karena itulah, perbankan seharusnya mulai berani agresif menyalurkan dananya ke UKM. Apalagi sektor inilah yang sangat banyak membantu masyarakat, terutama di daerah.

Seandainya perbankan memperbesar penyaluran dana kreditnya di sektor ini, SYAHPUTRA optimis jika permasalahan pengangguran dapat ditekan. “Berdasarkan studi kami di Cina, setiap peningkatan nilai ekspor US$ 1 juta, dapat menyerap tenaga kerja baik langsung maupun tidak sebanyak 4 juta orang,”paparnya.

Untuk total nilai ekspor mebel, rotan dan kerajinan secara nasional sepanjang 2006, tercatat sebesar US$ 1,8 milyar. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menyumbang antara 10% hingga 12,5%. Untuk tahun ini, total nilainya ditargetkan mencapai sekitar US$ 2 milyar atau tumbuh sekitar 20%.

Tidak hanya masalah perbankan yang masih dihadapi pelaku UKM di dalam negeri. Menurut SYAHPUTRA, tingginya biaya produksi di dalam negeri juga menjadi kendala. Diantaranya, semakin mahalnya tarif listrik. Akibatnya, daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

“Satu diantaranya, harga bunga kertas. Produk kita 15% lebih mahal dari Vietnam,”ujarnya.

Padahal, tren pasar internasional saat ini sedang terfokus efisiensi harga. Kondisi nantinya akan membuat porduk-produk yang harganya tidak efisien tersisih dari pasar internasional.

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
33o
Kurs