Selasa, 22 September 2020

Ekonomi Terkontraksi, Bansos Sangat Vital Untuk Bounce Back

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Ilustrasi Mata Uang Rupiah

Badan Pusat Statistik merilis bahwa Produk Domestik Bruto nasional di triwulan II 2020 mengalami kontraksi hingga minus 5,32%. Hasil itu disebut sebagai dampak dari berbagai variabel perubahan akibat Covid-19 yang melanda seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Selly Andriany Gantina anggota Komisi VIII DPR angkat bicara. Legislator asal Cirebon ini menyebut bahwa rilis BPS tersebut adalah hasil dari kondisi transisi saat Covid melanda.

“Saya rasa kita perlu melihat rilis BPS kemarin dengan positif. Kontraksi ekonomi memang ada, terlebih riset dilakukan spesifik di triwulan kedua. Triwulan kedua kan masa transisi tuh, dimana-mana sedang PSBB dan pembatasan aktifitas ekonomi juga,” ujar Selly di Jakarta, Jumat (7/8/2020).

“Tapi secara positif harus kita lihat juga bahwa triwulan ketiga pasti akan ada kenaikan yang signifikan. Karena kebijakan New Habit yang berlaku, kemudian social safety nett yang dilepas ke masyarakat lewat berbagai skema. Hasilnya pasti bisa dongkrak (jumlah PDB secara nasional),” imbuh Mantan Wakil Bupati Cirebon ini.

Selain itu, Selly juga menyebut bahwa Bantuan Sosial (Bansos) menjadi kebijakan unggulan yang akan menjadi penentuan bagi pertumbuhan ekonomi.

“Saya kira bansos bakal sangat vital untuk bounce back ekonomi kita. Pandemi ini kan yang terkontraksi paling utama itu ekonomi riil di keluarga. Tingkat konsumsi yang angkanya stabil tapi tingkat pendapatan riil tiap keluarga banyak yang turun. Bansos ini datang untuk isi gap (selisih) itu. Jadi ekonomi riil di tingkat keluarga terjaga” kata Politisi PDI Perjuangan ini.

“Ini belum beberapa stimulus lagi dari Pemerintah. Ada yang untuk UMKM, ada yang untuk usaha mikro, untuk dunia digital. Bansos ini akan jadi faktor penentu. Untuk itu perlu dilanjut dengan perbaikan teknis sedikit-sedikit. Kita harus pastikan uang berputar di masyarakat secara riil,” tegasnya.

BPS sendiri menyebut bahwa triwulan kedua 2020 terjadi inflasi sebesar 0,32% yang berpengaruh terhadap turunnya jumlah PDB secara signifikan (faz/tin)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Meinara Iman Dwihartanto

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Selasa, 22 September 2020
31o
Kurs