Kamis, 24 September 2020

Pemprov Jatim Dorong Alih Usaha UMKM Alas Kaki Mojokerto Jadi Produsen APD Lokal

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Emil Dardak Wakil Gubernur Jatim saat meninjau proses produksi masker UMKM di Kota Mojokerto. Foto: Humas Pemprov Jatim

Pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha mengalihkan bidang usahanya pada produksi barang yang dibutuhkan masyarakat. Seperti di Kota Mojokerto, sekelompok UMKM produsen alas kaki kini beralih pada produksi alat pelindung diri seperti masker dan face shield.

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jatim meninjau tempat produksi APD UMKM itu di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Mojokerto, Senin (3/8/2020) kemarin, didampingi Ika Puspitasari dan Ahmad Rizal Zakaria Wali Kota dan Wakil Wali Kota Mojokerto.

Emil melihat langsung proses produksi masker UMKM itu. Dia juga sempat berdialog dan berdiskusi dengan para pelakunya.

“Saya dengar tentang ikhtiar UMKM kelompok masyarakat di Kota Mojokerto mengembangkan produk-produk yang dibutuhkan masyarakat di tengah pandemi. Karena produk yang biasa mereka hasilkan permintaannya turun drastis, bahkan hampir tidak ada,” katanya, dalam keterangan resmi, Selasa (4/8/2020).

Ika Puspitasari Wali Kota Mojokerto memfasilitasi para pelaku usaha ini dengan mengizinkan mereka memanfaatkan aset pemerintah (gedung BLK) sebagai tempat produksi masker, face shield, dan sejumlah alat pelindung diri lainnya.

Masker yang diproduksi Kelompok UMKM ini dinamakan MPU95. Dengan standar empat lapis, bentuknya mirip masker medis KN95. Para pelaku usaha itu mampu memproduksi kurang lebih 1.000 masker dalam sehari. Namun produksi itu belum mencukupi permintaan.

“Menurut informasi, masker ini sudah ada semacam keterangan dari Kementerian Kesehatan. Akan kami verifikasi lagi, kami cek apa mungkin bisa bersinergi dengan instansi-instansi pemerintah. Tapi ternyata, yang urgent sekarang permintaan dan supply lebih banyak permintaan,” terangnya.

Untuk mengatasi hal itu, Emil berdiskusi dengan Wali Kota Mojokerto tentang kemungkinan ketersediaan alat guna pendukung proses produksi. Dia berharap dalam waktu dekat ada tambahan alat sehingga kapasitas produksi masker bisa memenuhi permintaan yang tinggi.

Emil memaparkan, selain memproduksi masker, UMKM di Mojokerto yang sebelum pandemi banyak memproduksi alas kaki, kali ini banyak yang mencoba untuk usaha di bidang pertanian (urban farming), seperti tanaman hidroponik.

“Urban farming ini erat kaitannya dengan ketahanan pangan. Nanti ini bisa disinergikan dengan Kelompok Usaha Bersama (KUB) serta masuk dalam e-warung. Ini sesuai dengan cita-cita Ibu Gubernur Jatim dulu ketika beliau jadi Menteri Sosial. Kalau kita akan memberi bantuan pada warga, bantuan itu larinya juga untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil. Itulah esensi dasar dari e-warung,” jelasnya.

Saat meninjau urban farming UMKM tersebut, Emil mengaku senang melihat ada upaya membangun teknologi pertanian. Baik melalui prebiotik, pupuk kompos, dan lain sebagainya. Hal itu kemudian bisa diimplementasikan, salah satunya supaya kandang ayam tidak bau.

“Nah format seperti ini mungkin bisa diterapkan di pemukiman-pemukiman warga. Asalkan disiplin, mungkin secara dampak lingkungannya bisa diminimalisir. Misal di perumahan ada yang punya kandang ayam atau kandang kucing jadinya dengan format seperti ini jadi kandangnya tidak bau. Kalau standar ini bisa dibuktikan, memungkinkan bisa jadi diversifikasi pendapatan keluarga perkotaan,” pungkasnya.(den/iss)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Hendra Lukas P. Hutagalung

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Kamis, 24 September 2020
28o
Kurs