Senin, 30 Januari 2023

CSIS: Selain Perizinan, Pemerintahan Perlu Menjamin Kemudahan Investor Jalankan Usaha di Indonesia

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Pertukaran Dokumen antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia dengan Menteri Senior dan Menteri Koordinator Keamanan Nasional Republik Singapura tentang Perluasan Kerangka Pembahasan Indonesia-Singapura. Foto: Biro Pers Setpres

Pemerintah terus berupaya meningkatkan investasi guna mengejar target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen setiap tahunnya.

Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah mempermudah persyaratan dan perizinan yang diperlukan investor menanamkan modalnya di Indonesia.

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator bidang Perekonomian mengklaim, Pemerintah Indonesia sudah mendapatkan potensi investasi senilai 30 miliar Dollar AS atau setara Rp467,7 triliun (kurs Rp 15.593 per Dollar AS).

“Potensi aliran modal itu masuk di berbagai sektor industri,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/12/2022).

Menurut Yose Rizal Damuri Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), sudah banyak perubahan yang terjadi dalam konteks kemudahan berinvestasi di Indonesia.

“Sudah ada perubahan berbagai fasilitasi investasi, sudah dimudahkan seperti adanya one stop services yang mulai dijalankan dan terus diperbaiki,” katanya, Kamis (8/12/2022).

Dia bilang, investasi tidak hanya berkutat soal kemudahan dan fasilitasi yang didapat investor waktu akan menanamkan modal di Indonesia. Tapi, Pemerintah juga harus mempertimbangkan kemudahan buat investor menjalankan usaha.

“Investasi ini bukan hanya masalah ketika datang tetapi juga secara umum adalah bagaimana iklim yang baik terlihat bukan hanya ketika orang mau masuk menaruh uangnya tetapi juga ketika mereka menjalankan usaha,” ungkapnya.

Yose menegaskan, Pemerintah perlu memberikan jaminan kemudahan investor menjalankan usaha, seperti kemudahan memperoleh tenaga kerja kalau tidak tersedia tenaga kerja lokal yang sesuai dengan kebutuhan usaha. Sehingga, investor harus mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri.

“Hal-hal seperti itu berpengaruh tentunya dan akan menjadi pertimbangan. Cuma kalau gampang masuknya, diberikan fasilitas, tetapi kemudian operasionalnya susah. Seperti kemudahan dalam melakukan suplai bahan baku dari luar negeri,” tegasnya.

Sementara itu, Eko Listiyanto Ekonom INDEF mengatakan memang ada beberapa kendala yang bikin investor malas masuk ke Indonesia.

“Pembenahan masih perlu terus dilakukan, terutama biaya logistik yang masih mahal, efisiensi dan kecepatan birokrasi, SDM siap kerja untuk mengisi kebutuhan di berbagai industri tersebut,” katanya.

Eko menambahkan, ada juga hambatan dari daerah. Walau pemerintah pusat terus mendorong daerah untuk proaktif, ternyata perizinan di daerah masih bermasalah.

Di sisi lain, dia menyebut salah satu faktor yang membuat Indonesia menarik di mata investor adalah kondisi perekonomian yang tangguh di tengah krisis global.

INDEF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif, di kisaran 5,1 persen.

“Selama Indonesia bisa mengoptimalkan laju positif pemulihan ekonomi domestik, sebenarnya risiko resesi tahun depan bisa dihindari,” pungkasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait