Selasa, 27 September 2022

Harga Minyak Naik Tipis, Meskipun Dolar AS Kuat

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi harga minyak naik tipis. Foto: Pixabay

Minyak berjangka naik tipis dalam perdagangan yang fluktuatif pada Sabtu pagi, tetapi ada keuntungan yang menurun untuk minggu ini, karena dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dan kekhawatiran perlambatan ekonomi akan melemahkan permintaan minyak mentah.

Minyak mentah berjangka standar perdagangan minyak AS/ West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, bertambah 27 sen atau 0,3 persen, menjadi 90,77 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah berjangka Brent (patokan harga global) untuk pengiriman Oktober meningkat 13 sen atau 0,1 persen, menjadi 96,72 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Seperti yang dilansir Antara, Sabtu (20/8/2022), patokan minyak mentah AS turun 1,4 persen, sementara Brent turun 1,5 persen, berdasarkan kontrak bulan depan. Harga minyak turun 1,5 persen karena kegelisahan resesi.

Minyak sempat melonjak saat Thomas Barkin, Presiden Federal Reserve Richmond mengatakan, dorongan untuk menaikkan suku bunga juga perlu diimbangi, dengan dampak kenaikan suku bunga terhadap perekonomian.

Penguatan dolar AS mencapai level tertinggi pada lima minggu, yang membatasi kenaikan minyak mentah karena membuat minyak lebih mahal bagi pembeli dalam mata uang lain.

“Meskipun kompleks minyak telah mampu mengabaikan dolar yang kuat pada setiap sesi tertentu, tren dolar kuat yang diperpanjang akan menimbulkan hambatan besar terhadap kenaikan harga minyak yang berkelanjutan,” Jim Ritterbusch, dari perusahaan penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.

Haitham Al Ghais, Sekretaris Jenderal baru Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengatakan bahwa dia optimis tentang permintaan minyak hingga 2023.

“OPEC ingin memastikan Rusia tetap menjadi bagian dari kelompok OPEC+,” kata Al Ghais.

Pasokan bisa diperketat lagi ketika pembeli Eropa mulai mencari pasokan alternatif untuk menggantikan minyak Rusia menjelang sanksi Uni Eropa yang berlaku mulai 5 Desember.

“Kami menghitung Uni Eropa perlu mengganti 1,2 juta barel per hari impor minyak mentah Rusia melalui laut, dengan minyak mentah dari wilayah lain,” kata konsultan FGE.

Data awal pekan ini menunjukkan, persediaan minyak mentah AS turun tajam karena produsen utama dunia mengekspor rekor 5 juta barel minyak per hari minggu lalu, dengan perusahaan-perusahaan minyak mendapat permintaan dari negara-negara Eropa yang ingin menggantikan minyak mentah Rusia.

Namun, jumlah rig minyak AS, indikator awal pasokan masa depan, tidak berubah pada 601 rig minggu ini, menurut Baker Hughes Co, karena perusahaan-perusahaan energi perlahan-lahan meningkatkan produksi ke tingkat pra-pandemi dengan produksi minyak serpih pada September yang diperkirakan akan mencapai level tertinggi sejak Maret 2020.

Sementara itu, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan, manajer uang memangkas posisi net long minyak mentah AS dan posisi opsi di New York dan London sebesar 18.389 kontrak menjadi 154.824 hingga 16 Agustus. (ant/des/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling di Raya Kedamean Gresik

Truk Mogok di Mastrip arah Kedurus

Mobil Terbalik di Merr Surabaya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Surabaya
Selasa, 27 September 2022
30o
Kurs