Sabtu, 2 Maret 2024

PLN Suarakan Kolaborasi Global Wujudkan Transisi Energi di ASEAN-Indo-Pacific Forum

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Kiri ke kanan: Caroline Chua (Head of Asia Pacific Decarbonization for BloombergNEF), Darmawan Prasodjo (Direktur Utama PLN), Kathy Wu (Regional President APAC of BP), Enoh T. Ebong (Director of the U.S. Trade and Development Agency), dan Goldy Hyder (CEO of Canada Business Council). Foto: PLN

PT PLN (Persero) terus memperkuat kolaborasi dengan komunitas energi dunia. Tujuannya untuk memastikan ketahanan energi nasional, khususnya dalam ASEAN-Indo-Pacific Forum (AIPF).

Erick Thohir Menteri BUMN mengatakan, AIPF bertujuan untuk menghubungkan sektor swasta dan publik di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik untuk kerja sama yang lebih kuat.

Forum ini akan menjadi platform bagi negara-negara anggota ASEAN dan mitra untuk terlibat dalam diskusi konstruktif yang menghasilkan proyek-proyek nyata yang pada akhirnya meningkatkan kolaborasi di kawasan Indo-Pasifik.

“Kita berkumpul di sini untuk membangun masa depan kita yang lebih terkoneksi, lebih makmur, dan lebih berkelanjutan untuk kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik,” kata Erick dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Kamis (7/9/2023).

Seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat, permintaan pasokan listrik juga semakin tinggi. Hal ini menjadi tantangan bersama, bagaimana menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dengan ketahanan energi.

Darmawan Prasodjo Direktur Utama PLN menyampaikan, transisi energi kini semakin dimungkinkan karena tarif listrik dari energi baru terbarukan (EBT) semakin murah.

Namun, kendala terbesar transisi energi adalah di sektor pembiayaan. Mengingat karakter pembangkit EBT yang membutuhkan investasi capital expenditure besar di awal. Meski ongkos operasionalnya relatif lebih murah.

“Untuk menjalankan komitmen ini, Indonesia tidak bisa berjalan sendiri. Memang tantangannya sangat besar, namun dengan adanya forum seperti AIPF ini memberi kita keyakinan. Apapun tantangannya, kita akan terus melangkah maju bersama-sama,” ungkapnya.

Darmawan menambahkan, dalam dua tahun terakhir, PLN telah menjalankan berbagai upaya transisi energi.

Di antaranya adalah membatalkan rencana pembangunan 13,3 Gigawatt (GW) pembangkit batubara, mengganti 1,1 GW pembangkit batubara dengan EBT, serta menetapkan 51,6% penambahan pembangkit berbasis EBT.

“Kami sedang dalam proses merancang dan mendesain ulang perencanaan ketenagalistrikan nasional. Dengan sistem baru ini, kami memahami adanya ketidaksesuaian antara sebagian besar sumber EBT dengan pusat beban sehingga kami akan membangun green enabling super grid untuk menghubungkannya,” jelasnya.

Dirinya juga menyampaikan, saat ini PLN dalam proses mendesain dan membangun end-to-end smart grid. Sistem inilah yang ke depan akan digunakan untuk mendukung pembangunan ASEAN Power Grid.

Sistem ini diproyeksikan mampu menghubungkan transmisi lintas negara-negara di ASEAN, mulai dari Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura dan Indonesia.

“ASEAN Power Grid bukan hanya soal listrik. Namun hal ini mencerminkan kekuatan baru ASEAN. Mencerminkan perubahan ASEAN yang sebelumnya terfragmentasi menjadi ASEAN yang bersatu, demi satu tujuan, kemakmuran bagi kawasan Asia Tenggara,” tutur Darmawan. (saf/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Sabtu, 2 Maret 2024
27o
Kurs