Sabtu, 11 Juli 2026

Airlangga Sebut Fundamental Ekonomi Solid, meski Rupiah Tembus 18 Ribu

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Foto: Humas Kemenko Perekonomian

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski nilai tukar rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menurut Airlangga, berbagai indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, inflasi, hingga sektor perbankan.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kemarin kan masih baik di 5,61 persen. Kemudian kalau kita lihat neraca perdagangan year to date juga masih positif,” kata Airlangga di Jakarta, Minggu (11/7/2026).

Ia menjelaskan, defisit neraca perdagangan yang terjadi dalam satu bulan terakhir lebih dipengaruhi oleh lonjakan harga impor bahan bakar minyak (BBM), bukan karena melemahnya kinerja ekspor nasional.

“Kemarin satu bulan memang negatif karena dari segi impor BBM itu memang harganya spike, harganya naik. Sedangkan ekspor daripada kelapa sawit, kemudian batu bara, dan juga Ferroalloy (paduan besi) sebetulnya angkanya relatif sama kemarin sehingga tentu ini kita akan jaga juga beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Selain itu, Airlangga mengatakan inflasi masih berada dalam kisaran target pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.

Menurutnya, pemerintah juga terus menyiapkan berbagai insentif untuk menjaga daya saing industri. Salah satunya melalui penyusunan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang akan memberikan bea masuk nol persen bagi impor bahan baku plastik.

“Pemerintah mendorong beberapa insentif termasuk insentif untuk industri chemicals di mana impor bahan baku plastik akan dinolkan dan ini PMK-nya sedang dibuat,” katanya.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan memberikan fasilitas bea masuk nol persen untuk impor LPG sebagai bahan baku industri petrokimia selama enam bulan ke depan.

“Untuk petrochemical yang kesulitan bahan baku untuk impor LPG juga kita berikan bea masuk nol untuk periode enam bulan ke depan,” ucapnya.

Airlangga menambahkan, berbagai program prioritas pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit perumahan, juga terus berjalan dengan capaian yang dinilai baik.

Ia menyebut kondisi sektor perbankan juga masih terjaga, ditandai dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang sudah mencapai dua digit serta penyaluran kredit yang meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

“Dari segi perbankan relatif aman, memang dana pihak ketiga juga di perbankan sudah double digit dan kita melihat kredit juga sudah mulai berjalan, sudah meningkat dibandingkan kuartal yang lalu,” katanya.

Lebih lanjut, Airlangga mengatakan optimisme terhadap ekonomi Indonesia juga tercermin dari proyeksi sejumlah lembaga internasional.

“Dari berbagai lembaga, baik itu World Bank, IMF, maupun OECD, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam range sekitar 5 persen. Jadi relatif semua menilai perekonomian kita relatif aman dan solid,” pungkasnya.

Pada penutupan perdagangan kemarin, Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp18.065 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.128 per dolar AS.

Muhammad Amru Syifa Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) menyatakan, penguatan rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa (cadev) yang memadai.

“Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai serta komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar. Kedua faktor tersebut diharapkan mampu meredam tekanan apabila gejolak di pasar keuangan global kembali meningkat,” kata Amru Syifa.

Pposisi cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi 145,6 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, naik dari 144,9 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Ia mengatakan, rupiah masih berpeluang menguat pada pekan depan jika tekanan terhadap dolar AS berlanjut. Namun, penguatan rupiah diperkirakan tidak terlalu besar karena investor masih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, terutama inflasi inti (Core CPI), yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.(lea/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 11 Juli 2026
32o
Kurs