Puluhan mahasiswa Program Studi Visual Communication Design (VCD) Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengenalkan cara mengelola emosi lewat karya visual dan musik yang dipamerkan dalam program “Feel the Emotion: Of the Sound, Image, & Synesthesia”.
Para mahasiswa tersebut, menghadirkan empat lagu original ciptaan mereka sendiri. Setiap mahasiswa menulis lirik, menciptakan musik, kemudian menerjemahkan makna dan atmosfer lagu tersebut ke dalam berbagai media visual seperti album cover, poster, fotografi, ilustrasi, hingga identitas visual yang saling terhubung.
Pandu R. Utomo, Dosen VCD UC Surabaya menjelaskan bahwa proyek tersebut dirancang untuk memperluas cara pandang mahasiswa terhadap desain sebagai medium yang mampu menjangkau lebih dari sekadar penglihatan.
“Desain yang baik tidak hanya dinikmati oleh mata. Desain mampu menjangkau pancaindra lain, berinteraksi dengan bunyi, sentuhan, rasa manusia, menciptakan kesan, menggelitik pikiran, sekaligus mengolah emosi. Melalui proyek ini mahasiswa belajar bagaimana sebuah pengalaman dapat diterjemahkan menjadi komunikasi visual yang bermakna,” katanya, pada Jumat (16/6/2026).
Ia mengatakan, pendekatan tersebut dilakukan agar relevan dengan era saat ini ketika industri kreatif global mulai bergerak menuju pengalaman yang lebih imersif dan multisensori.
Dalam program tersebut, ia mengtakan bahwa desainer tidak hanya dituntut menghasilkan karya yang estetis, tetapi juga mampu membangun hubungan emosional dengan audiens.
“Fenomena tersebut tercermin dalam karya-karya mahasiswa yang mengangkat berbagai isu dekat dengan kehidupan Generasi Z, mulai dari pencarian jati diri, hubungan keluarga dan pertemanan, kehilangan, harapan, hingga refleksi terhadap pengalaman sehari-hari,” tuturnya.
Benaya Christofer F, ketua pameran, mengatakan bahwa konsep pameran terinspirasi dari synesthesia, sebuah fenomena yang menggambarkan hubungan antarindra, seperti melihat warna ketika mendengar suara tertentu.
“Biasanya musik hanya didengar. Dalam pameran ini kami mencoba menerjemahkan musik menjadi pengalaman visual yang bisa dilihat dan dirasakan. Setiap karya memiliki cerita, suasana, dan emosi yang berbeda sesuai pengalaman kreatornya,” ucapnya.
Ia menambahkan, seluruh karya yang dipamerkan lahir dari proses kreatif yang cukup panjang. Mahasiswa tidak hanya mendesain visual, tetapi terlebih dahulu menciptakan lagu sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan konsep visual yang selaras dengan pesan yang ingin disampaikan.
Pihaknya berharap selain menjadi ruang apresiasi karya mahasiswa, pameran tersebut juga bisa menunjukkan bagaimana perkembangan desain komunikasi visual semakin bergerak ke arah yang lebih human-centered.
“Karya desain tidak lagi berfungsi sekadar menyampaikan informasi, melainkan menjadi medium untuk membangun pengalaman, memantik refleksi, dan menghadirkan koneksi emosional yang lebih mendalam,” tandasnya.(ant/ris/iss)
NOW ON AIR SSFM 100

