Adapun Patriot Bond dan Merah Putih Bond sebelumnya ditawarkan dengan imbal hasil sekitar dua persen dan tenornya 5-7 tahun. Menurut Firman, angka imbal hasil itu memang tergolong kecil, tetapi masih bisa berubah karena pada dasarnya instrumen tersebut mengikuti mekanisme penawaran dan permintaan.
Ia menyebut, pemerintah tentu memiliki strategi ketika mematok imbal hasil di angka tersebut. Apalagi, instrumen ini ditujukan untuk menarik dana besar, termasuk dana yang selama ini berada di luar negeri.
“Tapi karena ini juga sebenarnya adalah penawaran dan permintaan kan, tentu bisa saja kemungkinan itu akan berubah bisa. Saya kira begitu. Dari dua persen, kemudian jadi tiga persen begitu. Jadi ini kan seperti kalau kita lelang itu loh, lelang itu kan biasanya dipatok di bawah dulu ya. Terus bisa naik begitu,” ungkapnya.
Selain menambah likuiditas, kata Firman, Patriot Bond dan Merah Putih Bond juga disebut dapat menjadi sumber pembiayaan bagi proyek strategis nasional, termasuk proyek Waste to Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi.
Kata Firman, pembiayaan untuk proyek seperti itu bisa berdampak positif jika benar-benar dikelola secara efektif dan memiliki nilai ekonomi jangka panjang.

NOW ON AIR SSFM 100

