Senin, 24 Agustus 2026

Ekonom Ungkap Dampak Ekonomi Karhutla di Tengah Risiko El Nino

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Asap putih akibat kebakaran menyelimuti hutan di Kalimantan. Foto: BNPB

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah meningkatnya risiko El Nino dinilai berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang jauh lebih besar daripada nilai hutan atau lahan yang terbakar.

Fakhrul Fulvian Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia mengatakan, dampak karhutla dapat merambat ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, transportasi hingga produktivitas masyarakat.

“Bencana mempunyai multiplier effect yang sering tidak terlihat pada hari pertama. Awalnya mungkin kebakaran lahan. Setelah itu muncul masalah kesehatan, aktivitas kerja terganggu, sekolah terganggu, transportasi terganggu dan pada akhirnya kegiatan ekonomi dan daya hidup masyarakat ikut melemah,” kata Fakhrul pada Minggu (23/8/2025).

Menurut dia, kabut asap akibat karhutla dapat meningkatkan gangguan pernapasan sekaligus mendorong kenaikan biaya kesehatan masyarakat.

Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan belajar mengajar juga berpotensi terganggu dan produktivitas pekerja dapat menurun.

Dampaknya tidak berhenti pada aktivitas masyarakat. Gangguan jarak pandang akibat asap dapat memengaruhi penerbangan dan transportasi. Distribusi barang, perdagangan lokal hingga kegiatan ekonomi harian juga berisiko ikut terdampak.

Di daerah yang perekonomiannya bergantung pada sektor pertanian, kondisi kering berkepanjangan akibat El Nino juga dapat memperbesar tekanan.

Ketersediaan air dan produksi pangan berpotensi menurun jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.

Fakhrul menilai, penurunan produksi pangan pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap harga sekaligus mengurangi pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Karena itu, ia menilai pencegahan bencana tidak semata-mata berkaitan dengan aspek sosial dan keselamatan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi.

“Yang unik dari anggaran kebencanaan adalah keberhasilannya sering justru terlihat ketika sesuatu tidak terjadi,” ujarnya dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan, kebakaran yang dapat dikendalikan sejak awal akan mencegah terhentinya aktivitas ekonomi dalam skala lebih besar.

Demikian pula sistem peringatan dini yang berjalan efektif memungkinkan masyarakat mengantisipasi risiko sebelum bencana berkembang.

Ketersediaan logistik dan peralatan juga menjadi faktor penting. Dengan kesiapan tersebut, respons terhadap bencana dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu kondisi memburuk.

Menurut Fakhrul, kerugian yang berhasil dicegah memang sulit tercermin dalam statistik ekonomi. Namun, nilai ekonominya tetap nyata karena masyarakat terhindar dari berbagai biaya akibat bencana.

“Kita sering dapat menghitung biaya sebuah bencana setelah terjadi. Yang jauh lebih sulit dihitung adalah kerugian yang tidak jadi terjadi karena pencegahan bekerja. Padahal secara ekonomi nilainya bisa sangat besar,” katanya.

Atas dasar itu, Fakhrul menilai prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati juga memiliki dasar ekonomi yang kuat.

Biaya kesiapsiagaan dapat direncanakan sejak awal, sedangkan biaya yang muncul setelah bencana membesar cenderung lebih sulit diprediksi dan dikendalikan.

Fakhrul juga menilai kapasitas anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) perlu diperkuat apabila peningkatan risiko bencana membutuhkan kesiapan yang lebih besar.

Namun, menurutnya, ukuran keberhasilan penanggulangan bencana tidak cukup dilihat dari besarnya anggaran.

Hal yang lebih penting adalah memastikan seluruh kapasitas pencegahan dan respons benar-benar tersedia dan dapat digunakan ketika dibutuhkan.

Sejumlah aspek yang perlu menjadi prioritas antara lain kesiapsiagaan, pemantauan risiko, sistem peringatan dini atau early warning, ketersediaan personel dan logistik, pemeliharaan peralatan, hingga koordinasi antara BNPB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kecepatan respons ketika titik api atau potensi bencana mulai terdeteksi juga menjadi faktor penting untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Fakhrul mengatakan pengelolaan risiko pada dasarnya mengikuti prinsip sederhana. Semakin besar kemungkinan suatu bencana terjadi dan semakin besar potensi kerugiannya, semakin tinggi pula kebutuhan terhadap kesiapsiagaan.

“Karena itu, ketika risiko El Nino dan karhutla meningkat, kapasitas penanggulangan bencana tidak seharusnya justru melemah,” ujarnya.

Ia berharap risiko El Nino dan karhutla dapat dilewati tanpa menimbulkan dampak besar. Namun, harapan tersebut harus diikuti dengan kesiapan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

“Kita tentu berharap risiko El Nino dan karhutla tahun ini dapat dilewati dengan baik. Tetapi harapan harus disertai kesiapan. Karena biaya pencegahan hampir selalu lebih kecil dibandingkan biaya ekonomi, kesehatan dan sosial ketika sebuah bencana sudah terlanjur membesar,” kata Fakhrul. (ant/saf/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Senin, 24 Agustus 2026
26o
Kurs