“Melalui penyediaan ekosistem keuangan yang kompetitif, regulasi yang mendukung, serta infrastruktur penunjang, PFII diharapkan mampu meningkatkan arus modal asing dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi regional,” kata Liza.
Dari pasar global, sentimen positif datang dari berlanjutnya penguatan saham-saham sektor semikonduktor setelah sebelumnya terkoreksi akibat aksi ambil untung pada tema kecerdasan buatan (AI).
Investor juga mulai mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal II 2026. Kinerja Alphabet, Intel, dan Texas Instruments dinilai akan menjadi indikator penting untuk mengukur prospek belanja AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor teknologi.
“Meski prospek jangka panjang AI dinilai masih kuat, pasar tetap mencermati tingginya belanja modal perusahaan-perusahaan teknologi besar serta potensi imbal hasil investasinya. Di sisi lain, minimnya data ekonomi serta periode blackout komunikasi The Fed membuat pergerakan pasar lebih dipengaruhi oleh laporan keuangan korporasi,” ujar Liza.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan kedua negara berlanjut, sementara kelompok Houthi mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi yang meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.







