Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan kembali eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham.
Penurunan yield obligasi AS terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang atau buyback menjadi sedikitnya 4 miliar dolar AS per operasi mulai 9 September 2026. Nilai tersebut naik dari sebelumnya 2 miliar dolar AS.
Menurut Nico, kebijakan tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor mengenai tingginya biaya pinjaman yang sebelumnya menjadi salah satu tekanan terhadap pasar saham global.
“Rencana kebijakan ini meredakan kekhawatiran atas kenaikan biaya pinjaman yang telah sangat membebani pasar ekuitas global,” katanya.
Dari Asia, investor turut mencermati kebijakan moneter China. Bank sentral China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman atau Loan Prime Rate (LPR) pada level yang sama.










