Industri kreatif dan penyelenggaraan event di Jawa Timur (Jatim) disebut sedang menghadapi tantangan berat, imbas kebijakan efisiensi yang diterapkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto Presiden dan Gibran Rakabuming Raka Wakil Presiden.
Yusuf Karim Ungsi Ketua Umum DPD Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jawa Timur, mengungkapkan bahwa penurunan aktivitas kegiatan mulai dirasakan secara signifikan sejak tahun 2025, dengan angka mencapai 30 hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski memasuki tahun 2026, sempat harapan akan adanya peningkatan pasca-Lebaran, tapi belum terwujud dan kondisi pasar masih cenderung melandai.
“Sebagai gambaran ya, memang sejak pemerintahan Pak Prabowo (Presiden) ini, kita bisa bisa lihat di 2025 itu beberapa teman-teman sudah kerasa ada penurunan dibanding tahun sebelumnya. Antara pemerintahannya memang karena modenya itu bukan mode untuk menyerang ya, kurang begitu suka seremoni dan lain sebagainya,” ujar Yusuf saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar yang tengah dilawan industri kreatif saat ini adalah munculnya pandangan bahwa penyelenggaraan event merupakan kegiatan konsumtif yang sekadar menghamburkan anggaran. Yusuf pun membantah hal tersebut.
Dia menegaskan bahwa event bisnis serta MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) justru punya multiplier effect yang nyata bagi perekonomian rakyat.
“Event itu adalah kegiatan yang produktif karena multiplier effect. Menghidupi UMKM dan dan beli masyarakat nya. Kayak kita contoh, SS (Suara Surabaya). Kalau SS setiap buat event misalkan seperti jazz traffic, berapa UMKM yang hidup? Berapa tukang parkir? Berapa orang jual minuman dan lain itu? Hotel, restoran itu hidup. Jadi yang kita lawan narasi bahwa kegiatan event itu, kegiatan yang menghambur-hamburkan uang gitu. Itu yang kita lawan,” tegasnya.
Adapun lesunya event di Jatim, menurutnya turut mengancam keberlangsungan hidup sekitar 3,8 juta pekerja kreatif di wilayah ini. Yusuf mengimbau para pemilik bisnis dan pekerja lepas (freelancer) untuk tidak menyerah dan segera beralih ke strategi yang lebih adaptif, termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan/AI.
Ia menekankan, melakukan diferensiasi usaha dan tidak bergantung pada satu sektor saja sangat penting agar tetap bisa bertahan di tengah kondisi yang tidak ideal.
Karenanya, Asperapi juga telah menjalin komunikasi dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk mencari solusi bersama pemerintah agar efisiensi tidak sampai mematikan kreativitas dan menambah angka pengangguran.
“Mau enggak mau, daripada kita ketinggalan jadi pada saat sudah dilepas ya kita sudah siap ngegas gitu,” pungkas Yusuf. (bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

