Senin, 21 September 2026

Kebijakan Beras Satu Harga Perlu Dukungan APBN, Ini Penjelasan Pakar

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Aktivitas bongkar muat dan penyimpanan beras di gudang Perum Bulog. Foto: Bapanas

“Di Provinsi Papua Pegunungan, biaya transportasi beras per kilogram bisa sekitar Rp23.000, lebih mahal daripada harga berasnya sendiri. Itu tantangan yang tidak mudah,” ujarnya.

Khudori menilai kondisi tersebut menjadi alasan mengapa pemerintah harus menanggung selisih biaya distribusi apabila kebijakan beras satu harga benar-benar diterapkan. Beban tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Bulog sebagai operator distribusi.

Ia mencontohkan kebijakan BBM satu harga yang selama ini dijalankan Pertamina. Menurutnya, keseragaman harga dapat diwujudkan karena terdapat dukungan pembiayaan dari negara untuk menutup disparitas biaya distribusi ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

“Pelaku distribusi dalam hal ini Bulog yang menjalankan, tetapi beban biaya akhirnya menjadi tanggung jawab APBN melalui margin yang diberikan pemerintah,” katanya.

Khudori juga mengingatkan kondisi keuangan Bulog pada tahun sebelumnya belum sepenuhnya sehat. Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, perusahaan disebut sempat mencatat kerugian sekitar Rp550 miliar akibat besarnya beban penugasan pelayanan publik.

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Senin, 21 September 2026
26o
Kurs