Dia menekankan, pertumbuhan harus disertai pemerataan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan agar kemajuan ekonomi nasional benar-benar bermakna bagi kehidupan rakyat.
Di balik kebutuhan anggaran yang besar, APBN 2027 mengandung tanggung jawab. Pemerintah harus mampu memenuhi target pendapatan negara Rp3.435,1 triliun sekaligus mengelola risiko defisit APBN sebesar Rp671,2 triliun atau setara 2,4 persen PDB.
“Banggar DPR berharap disiplin fiskal perlu dijaga. Sebab, setiap Rupiah dari pendapatan negara yang tidak tercapai mengandung konsekuensi, defisit berpotensi semakin besar atau target belanja yang direncanakan terpaksa harus dipangkas,” katanya.
Dua pilihan tersebut membawa konsekuensi masing-masing. Apabila defisit APBN naik, kewajiban menarik utang baru akan semakin besar. Pada tahap berikutnya, beban pembayaran bunga dan pokok utang juga akan semakin besar di kemudian hari.
Sebagai ilustrasi, pada 2015 kewajiban bunga utang memangkas 10 persen pendapatan negara. Pada 2026, angka tersebut naik menjadi 19 persen dan berpotensi terus meningkat apabila target defisit tidak mampu ditekan lebih rendah.










