“Anak yang lahir di desa harus memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan berkualitas sebagaimana anak yang lahir di kota. Petani harus memiliki akses terhadap irigasi, pupuk, pembiayaan, teknologi, dan pasar,” katanya.
Masyarakat desa yang sakit harus memperoleh pelayanan kesehatan yang baik tanpa harus selalu menempuh perjalanan jauh ke kota. Pelaku UMKM di daerah harus memiliki kesempatan untuk memasuki rantai pasok yang lebih besar, sementara konektivitas dan infrastruktur digital harus membuat jarak geografis semakin kehilangan relevansinya sebagai penghalang untuk maju.
“Dalam konteks itulah, anggaran ketahanan pangan Rp195,3 triliun, perlindungan sosial Rp539,7 triliun, pendidikan Rp824 triliun, Transfer ke Daerah Rp735 triliun, dan Dana Desa Rp77 triliun tidak boleh dibaca sebagai kotak-kotak anggaran yang berdiri sendiri,” papar Said.
Semuanya harus bertemu dalam kehidupan masyarakat. Ketika irigasi diperbaiki, pupuk tersedia, dan produktivitas petani meningkat, kebijakan pangan sedang bekerja.
Ketika anak dari keluarga petani tetap bersekolah dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, anggaran pendidikan sedang bekerja. Ketika keluarga miskin memperoleh perlindungan sosial yang tepat sasaran, APBN sedang bekerja.

NOW ON AIR SSFM 100

