Ia menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dipengaruhi meningkatnya porsi penarikan utang pemerintah AS dalam waktu relatif cepat dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, strategi pembelian kembali obligasi atau buyback oleh pemerintah AS dinilai belum berhasil menstabilkan pasar.
Tekanan terhadap pasar juga muncul dari ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebanyak dua hingga tiga kali dalam satu tahun ke depan.
Dari dalam negeri, Rully menilai stabilitas politik dan tata kelola pasar modal menjadi perhatian pelaku pasar. Hal itu menyusul dugaan kasus penyadapan terhadap Prabowo Subianto PresidenRI dan sejumlah pejabat negara, serta dinamika penilaian dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Kasus penyadapan jelas membuat premi risiko seluruh aset Indonesia naik yang tercermin dari CDS (Credit Default Swap) sudah di atas 100 bps,” ungkap Rully.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Rully memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

