Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap dolar Amerika Serikat sebagai aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, investor mencermati sejumlah indikator ekonomi yang dinilai masih cukup positif. Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) Juni 2026 tercatat mengalami defisit yang lebih kecil dibandingkan perkiraan pasar, sementara inflasi Juli tetap berada dalam target Bank Indonesia.
Menurut Amru, fokus investor pada hari ini juga tertuju pada rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026.
“Apabila pertumbuhan ekonomi berada di atas ekspektasi pasar, rupiah berpotensi memperoleh sentimen positif karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap solid,” katanya dilansir dari Antara.
Dalam jangka pendek, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.








