Menurut Ibrahim, pemangkasan kuota tersebut berpotensi memperketat akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi, khususnya bagi pengguna Pertalite yang selama ini mengandalkan bahan bakar tersebut untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Pemerintah juga menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 75 dolar AS per barel dalam perencanaan 2027. Angka tersebut masih berada di bawah harga minyak dunia saat ini yang berada di kisaran 83 dolar AS per barel.
“Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat. Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari,” ujar Ibrahim.
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah masih dipengaruhi sikap hati-hati investor menjelang rilis data transaksi berjalan Indonesia kuartal II 2026.
Investor mencermati perkembangan tersebut karena pada kuartal I 2026 defisit transaksi berjalan sempat melebar ke level terbesar sejak 2019.

NOW ON AIR SSFM 100

