Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (14/9/2026) melemah 58 poin atau 0,33 persen menjadi Rp17.669 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.611 per dolar AS.
Ibrahim Assuabi analis mata uang mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen Amerika Serikat (AS).
“Data inflasi bulan Agustus menunjukkan kenaikan indeks harga konsumen inti sebesar 0,3 persen secara bulanan (tidak termasuk biaya pangan dan energi),” kata Ibrahim dilansir dari Antara.
Kenaikan CPI AS secara tahunan mencapai 3,4 persen. Sementara CPI inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, tercatat sebesar 2,4 persen.
Menurut Ibrahim, kenaikan inflasi tersebut memperkuat perkiraan pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan pekan ini.
Pasar kini memperhitungkan kemungkinan sekitar 88 persen terhadap kenaikan suku bunga pada September.
“Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu (13/9), melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut,” ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin juga bergerak melemah. JISDOR berada di level Rp17.635 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp17.611 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

