Rupiah Ditutup Melemah 29 Poin ke Rp17.722 per Dolar AS
Senin, 31 Agustus 2026 | 17:45 WIB
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara
Selain sentimen geopolitik dan harga minyak, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari perkembangan pasar keuangan AS.
Ekspektasi inflasi AS serta kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut menjadi perhatian investor.
Rully mencatat ekspektasi inflasi AS berada di level 0,39 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,8 basis points menjadi 4,77 persen. Yield obligasi tenor 20 tahun juga meningkat 6,7 basis points menjadi 5,27 persen.
Kenaikan yield obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.