Selasa, 30 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.907 per Dolar AS, Dipicu Ketidakpastian AS-Iran

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Kurs rupiah melemah. Foto: suarasurabaya.net

Fokus pasar kini beralih pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Kamis (2/7/2026). Data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu acuan utama bagi investor dalam membaca arah kebijakan suku bunga The Fed.

“Para analis memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114 ribu lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen, data yang dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.”

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar juga tengah menantikan data neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2026. Surplus perdagangan yang terus menyusut dikhawatirkan dapat memperbesar tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif selama Januari hingga April 2026 tercatat sebesar 5,64 miliar dolar AS. Nilai tersebut turun signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih berada di atas 10 miliar dolar AS.

“Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing,” ujar Ibrahim.

Sejalan dengan pelemahan rupiah di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak turun. Pada perdagangan Selasa, JISDOR berada di level Rp17.899 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang tercatat Rp17.856 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Selasa, 30 Juni 2026
27o
Kurs