Kondisi tersebut terjadi karena nilai ekspor migas hanya mencapai 5,46 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 25,91 miliar dolar AS pada Juni 2026. Komoditas hasil minyak dan minyak mentah menjadi penyumbang utama defisit tersebut.
Selain itu, pasar juga mencermati penurunan posisi cadangan devisa Indonesia.
Pada akhir Juli 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 145 miliar dolar AS, turun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang mencapai 156,5 miliar dolar AS.
Penurunan tersebut dipengaruhi kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Ibrahim menilai pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (5/8/2026).








