Menurutnya, kenaikan imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) dan pelemahan rupiah merupakan dua faktor yang sensitif terhadap defisit APBN 2026.
Setiap kenaikan yield SBN sebesar 0,1 persen berpotensi memperlebar defisit Rp1,9 triliun. Sementara itu, setiap depresiasi rupiah sebesar Rp100 per dolar AS dapat menambah defisit sekitar Rp800 miliar.
Tekanan dinilai semakin besar ketika kenaikan yield SBN dan pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Ibrahim menyebut perubahan asumsi ICP memiliki sensitivitas besar terhadap defisit anggaran.
Setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun.
Sementara itu, realisasi ICP hingga akhir September 2026 disebut telah mencapai 91,9 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.
NOW ON AIR SSFM 100

