Dari eksternal, pergerakan rupiah turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasar mencermati kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman yang dapat membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Iran pada Minggu (9/8/2026) menyatakan pembicaraan dengan Oman telah memasuki tahap akhir. Namun, pembukaan kembali Selat Hormuz masih dikaitkan dengan sejumlah persyaratan, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat atas serangan yang terjadi terhadap Iran.
Sentimen terhadap kebijakan moneter AS juga menjadi perhatian pasar. Meredanya kekhawatiran mengenai inflasi Amerika Serikat dan melemahnya data ketenagakerjaan membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed).
“Apalagi, bersama dengan angka ketenagakerjaan yang lemah, hal ini semakin mengurangi ekspektasi bahwa Fed akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” ujar Ibrahim.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed September kini diperkirakan sekitar 42 persen. Angka tersebut turun dari sekitar 67 persen sepekan sebelumnya.

NOW ON AIR SSFM 100

