Sabtu, 4 Juli 2026

SPBU Jatim Sempat Antre Panjang, BPH Migas: Konsumsi Pertalite dan Solar Naik 25 Persen

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Wahyudi Anas, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) saat berada di Suara Surabaya Cantre, pada Jumat (3/7/2026). Foto: Chandra suarasurabaya.net

Wahyudi Anas, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan bahwa penyebab antrean panjang yang sempat terjadi di sejumlah SPBU di Jawa Timur beberapa waktu lalu karena adanya kenaikan konsumsi pertalite dan solar mencapai 25 persen dibanding kondisi normal.

“Kalau kita lihat satu per satu, untuk daerah yang kritis dan antreannya besar, kenaikan konsumsinya mencapai 25 persen. Sementara di daerah lain, di luar wilayah yang menjadi antrean, kenaikan rata-rata hanya 6 sampai 7 persen,” kata Wahyudi saat mengudara di Radio Suara Surabaya, pada Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, secara umum di wilayah Jatim, konsumsi Pertalite hingga 29 Juni tercatat naik sekitar 14 persen dibanding kondisi normal. Sementara konsumsi solar, yang banyak digunakan untuk angkutan barang, penumpang, dan layanan umum, naik 10,8 persen.

Dari hasil telaah BPH Migas, kenaikan konsumsi yang tajam di titik-titik antrean sejalan dengan meningkatnya volume kendaraan angkutan logistik di kawasan sekitar pelabuhan, seperti Tanjung Perak, Teluk Lamong, dan Gresik.

“Dari analisis kami, memang ada peningkatan kendaraan angkutan logistik yang sangat tajam. Kendaraan-kendaraan ini membutuhkan BBM untuk membawa barang dari pelabuhan ke titik-titik pengiriman,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak kendaraan ekspedisi, trailer, kontainer, dan kendaraan logistik lain yang menumpuk keluar dari kawasan pergudangan dan pelabuhan. Barang-barang dari luar daerah masuk ke Jatim melalui jalur laut, sementara produk dari Jatim juga dikirim ke luar pulau maupun untuk kebutuhan ekspor.

“Ini juga bisa menjadi tanda bahwa pertumbuhan ekonomi di Jatim sedang meningkat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa terdapat faktor pergeseran ke BBM subsidi. Menurutnya, kenaikan konsumsi BBM subsidi dan kompensasi negara juga tidak lepas dari kondisi harga minyak dunia.

Pada 2026, lanjut dia, kuota BBM subsidi dan kompensasi sebenarnya sudah dinaikkan 12 persen dibanding 2025 sebagai bentuk antisipasi. Namun, faktor geopolitik membuat harga minyak mentah dunia berfluktuasi, yang berimbas pada naiknya harga BBM umum atau nonsubsidi. Kondisi tersebut membuat masyarakat cenderung bergeser menggunakan BBM subsidi dan kompensasi negara, yakni pertalite dan solar.

“Akibatnya, masyarakat cenderung shifting atau bergeser ke BBM subsidi dan kompensasi negara,” jelasnya.

Wahyudi memastikan, begitu antrean di sejumlah SPBU ramai diperbincangkan di media sosial, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga Regional Jatim-Bali Nusra untuk menambah suplai hingga 20-25 persen per hari ke SPBU-SPBU terdampak, dibarengi penggeseran mobil tangki dari sejumlah wilayah.

“Alhamdulillah, dalam waktu tidak lebih dari tiga hari situasi sudah kembali normal,” katanya.

Menutup penjelasannya, Wahyudi menyebut kenaikan konsumsi seperti itu berpotensi terulang, mengingat posisi sejumlah SPBU yang berada tepat di jalur kendaraan berat dan logistik sehingga antrean mudah terlihat mencolok di jalan raya.

Oleh karena itu, BPH Migas memastikan akan terus melakukan evaluasi terkait penyediaan cadangan, stok, dan proyeksi kenaikan kebutuhan BBM, khususnya di wilayah dengan aktivitas logistik dan ekonomi tinggi seperti Jatim.(ris/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Sabtu, 4 Juli 2026
27o
Kurs