Ia menyebut industri manufaktur padat karya menjadi sektor yang paling rentan terdampak, terutama industri tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasar Amerika Serikat.
Menurut Yusuf, apabila pesanan terus tertunda, margin perusahaan dapat tertekan, kapasitas produksi berpotensi dikurangi, dan penyerapan tenaga kerja melambat. Dampaknya juga dapat dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian dari rantai pasok industri.
Sementara itu, beberapa subsektor seperti industri elektronik dan barang konsumsi dinilai memiliki risiko yang relatif lebih kecil karena pasar ekspornya lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada Amerika Serikat.
Di sisi lain, pemerintah terus melakukan komunikasi dengan otoritas perdagangan AS untuk memperoleh perlakuan tarif yang lebih kompetitif bagi Indonesia.
Haryo Limanseto Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan bahwa pemerintah terus berkonsultasi dengan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) dalam proses tersebut.

NOW ON AIR SSFM 100

