Rabu, 29 April 2026

Mereka Yang Dipinggirkan oleh Jembatan Suramadu

Laporan oleh Eddy Prastyo
Bagikan

Hiruk pikuk pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) bagi para nelayan Tambak Wedi sangat terasa sejak tahun 2003, persisnya saat MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Presiden RI meletakkan batu pertama pembangunan proyek itu.

“Saat itu saya masih ingat, Ibu MEGAWATI pesan agar pembangunan jembatan Suramadu jangan sampai merugikan masyarakat sekitar,” kata TAIB (41) seorang nelayan Tambak Wedi dengan logat Maduranya yang kental.

Saat ditemui suarasurabaya.net, Jumat (07/12), TAIB sedang sibuk menambal perahu semata wayangnya yang bocor. “Nyatanya, proyek Suramadu malah membuat tangkapan ikan kami malah merosot tajam,” kata dia.

Hal yang sama diungkap KUSNO (43). Semenjak pembangunan jembatan seharga Rp4,2 triliun itu, beberapa jenis ikan sudah sulit dijumpai bahkan raib dari perairan Selat Madura. Ikan-ikan itu seperti jenis Laosan, Keting, dan Cepe.

KUSNO menduga pemasangan tiang pancang dan peledakan ranjau-ranjau eks Perang Dunia II beberapa waktu lalu telah mengancurkan habitat ikan-ikan tersebut sampai ke bibit-bibit ikannya.

Baik KUSNO maupun TAIB tidak bisa menyebut secara pasti seberapa besar merosotnya hasil tangkapan dalam persentase. Namun dari hasil penjualan rata-rata, kata KUSNO, tangkapan tiap tahun semakin merosot.

“Dulu sebelum ada proyek, paling apes saya dapat Rp25 ribu belum dipotong bensin dan dibagi ke awak perahu lainnya. Sekarang saya dapat Rp15 ribu sudah alhamdulillah,” ujar KUSNO.

Ini artinya, uang Rp15 ribu itu harus ia potong bensin Rp10 ribu dan sisanya Rp5 ribu dibagi dua dengan SOMAD (15) keponakannya yang juga asisten dalam menangkap ikan di laut.

“Sekarang kalau melaut, saya tidak lagi pakai jaring penangkap ikan karena memang tidak ada ikannya. Saya pakai jaring untuk menangkap rajungan (semacam kepiting kecil-Red) yang lebih besar. Harga rajungan memang tidak semahal ikan. Tapi mau bagaimana lagi, mas?” katanya.

Upaya untuk memperbaiki keadaan sebenarnya sudah pernah ditempuh. Saat proyek itu baru berjalan, sejumlah nelayan memberanikan diri berdemonstrasi. Upaya itu mendapat tanggapan berupa janji mendapatkan ganti rugi dari Proyek Suramadu.

“Sampai sekarang janjinya tak pernah ditepati. Mereka hanya membangun pos di pantai yang katanya untuk pos jaga perahu. Tapi kok anehnya dibangun di sebelah pos jaga yang lama dan bangunannya tidak diselesaikan. Lalu buat apa?” kata ILAHIN (31) nelayan lainnya.

Lambat laun perlawanan pun, kata KUSNO, memudar seiring dengan direkrutnya sejumlah nelayan vokal menjadi penjaga keamanan proyek tersebut. “Tidak ada lagi yang berani protes soalnya tidak ada anak-anak muda yang pintar ngomong,” kata KUSNO.

Kondisi ini makin parah ketika lambat laun pantai menjadi dangkal. Pasir tergantikan dengan lumpur yang membuat kerang yang biasa dipanen istri-istri para nelayan pun hilang.

“Dulu sebelum ada proyek, istri saya bisa dapat tambahan uang Rp10 ribu dari hasil menjual kerang. Sekarang sudah tidak ada lagi semenjak ada bendungan di muara menuju ke laut,” kata KUSNO.

Kehidupan terasa makin berat bagi nelayan ketika mendengar harga bensin akan dinaikkan oleh pemerintah. “Wah, saya makin pusing kalau harga BBM dinaikkan lagi. Ini sudah ngepres. Bagaimana mau makan. Mosok harus demo lagi?” papar ILAHIN dengan nada sarkastis.

Dalam kondisi seperti ini, baik KUSNO, TAIB, dan ILAHIN sama-sama berpendapat jembatan Suramadu tak ada fungsi lain kecuali sebagai tempat berteduh para nelayan dan perahunya lepas mencari ikan.(edy)

Teks Foto :
1. Seorang nelayan mengecat perahunya agar tetap cantik saat melaut di pantai Tambak Wedi sementara di belakangnya, jembatan Suramadu sedang dalam proses penyelesaian.
2. Aktivitas nelayan Tambak Wedi di sekitar proyek pembangunan jembatan Suramadu.
Foto : EDDY suarasurabaya.net

Bagikan

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 29 April 2026
26o
Kurs