Selasa, 31 Maret 2020
Di Surabaya

Kasus Pencabulan Melibatkan Anak Meningkat

Laporan oleh Wakhid Muqodam
Bagikan

Jumlah anak yang terlibat konflik hukum di Surabaya terutama kasus pencabulan masih terbilang tinggi. Pergaulan bebas dan kurangnya kontrol dari orang tua dinilai sebagai faktor utama menyebabkan mereka terlibat dalam konflik hukum tersebut.

Data dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya hingga, Jumat (28/2/2014), menunjukkan setiap tahunnya kasus pencabulan atau persetubuhan jumlahnya tertinggi. Tahun 2013, korban mencapai 73 anak, naik dari tahun 2012 yang korbannya sebanyak 65 anak. Dan pada awal tahun 2014, jumlah korban pencabulan sudah mencapai 15 anak.

“Ini hanya kasus yang kami tangani, belum yang ditangani oleh Polsek jajaran sewilayah hukum Polrestabes Surabaya,” kata AKP Suratmi Kanit PPA Polrestabes Surabaya kepada suarasurabaya.net, Jumat (28/2/2014).

Dia menambahkan, tidak sedikit pula anak-anak yang terlibat dalam kasus trafficking. Tahun 2012 korban trafficking sebanyak enam anak, dan tahun 2013 sebanyak empat anak menjadi korban.

Tidak hanya menjadi korban, dari kasus yang ditangai PPA Polrestabes Surabaya, anak-anak juga menjadi pelaku kasus pencabulan. Tahun 2012 sebanyak 16 anak menjadi pelaku pencabulan, tahun 2013 sebanyak tujuh orang menjadi pelaku, dan awal tahun 2014 empat anak menjadi pelaku.
“Rata–rata mereka yang menjadi korban maupun pelaku, masih sekolah SMP dan SMA,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, anak-anak ini mengaku jika melakukan perbuatan tersebut karena pengaruh dari film porno yang mereka lihat, baik dari internet maupun dari handphone mereka.

Selain kasus kasus pencabulan dan persetubuhan, jenis tindak kriminal lainnya yang ditangani unit PPA adalah trafficking dan penganiayaan. Suratmi mengatakan, hasil analisis yang dilakukan, tingginya angka kriminalitas anak dipengaruhi pergaulan yang terlalu bebas dan kurangnya kontrol dari orangtua.

“Jika antara anak, orangtua, dan guru komunikasinya efektif, maka perilaku anak akan mudah dikontrol,” kata Suratmi.

Sejauh ini pihaknya telah melakukan penyuluhan secara intensif ke sekolah-sekolah. Pihaknya bekerjasama dengan berbagai pihak satu di antaranya dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.

Suratmi mengimbau, untuk orang tua agar melakukan pengawasan terhadap anaknya dan selalu menjaga komunikasi. Selain itu, setiap orang tua hendaknya mampu untuk dekat dengan anak, agar anak juga mau berperilaku jujur, dan selalu bercerita setiap ada masalah.

“Anak butuh kasih sayang, jangan hanya dicukupi masalah jasmani. Orang tua juga jangan sampai memberikan fasilitas yang terlalu berlebihan terhadap anak. Anak-anak emosinya masil labil, sehingga fasilitas yang berlebihan justru membahayakan anak-anak, dan menyebabkan anak-anak terjerumus kepada hal-hal yang negatif,” pungkasnya. (wak/ipg)

Teks Foto:
– Ilustrasi

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Truk Terguling di Karang Pilang

Biasanya Berjubel, Kini Sunyi

Surabaya
Selasa, 31 Maret 2020
25o
Kurs