Sabtu, 27 April 2024

Bahaya Anak-anak Indonesia Gunakan Gawai Sejak Kecil

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi

Candu teknologi, media sosial, dan gawai memang telah menjadi perhatian banyak pihak.

Tak tanggung-tanggung, Yohana Susana Yembise Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahkan mengatakan, ada seseorang kawannya dari luar negeri yang menyebut orang Indonesia tertinggal 100 tahun untuk menikmati teknologi.

“Orang-orang dari negara maju sudah melewati teknologi sehingga sudah paham dampak buruknya,” katanya dalam sebuah seminar beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, untuk menangkal dampak buruk dari teknologi dan media sosial, penggunaan gawai di kalangan anak-anak harus dibatasi.

Dilansir Antara, di depan langkah masyarakat Indonesia, masyarakat di negara maju sudah membatasi penggunaan gawai oleh anak-anak, bahkan melalui peraturan pemerintahnya.

Di Australia misalnya, Yohana mengatakan masyarakat di negeri yang terletak di selatan Indonesia itu bahkan kembali menggunakan telepon rumah dan membatasi penggunaan gawai.

Para penemu teknologi dan media sosial, yang menciptakan gawai pun, juga membatasi anak-anaknya dalam menggunakan barang-barang ciptaannya.

“Bill Gates dan para pembuat teknologi yang lain tidak memberikan gawai pada anaknya sebelum berusia 14 tahun. Mereka tahu bahaya dari dampak buruk gawai,” kata Yohana.

Menurut Yohana, dampak buruk penggunaan gawai pada anak adalah anak tidak bisa mengembangkan pola pikir yang teoritis dan kritis. Daya nalar mereka akan berkurang karena terbiasa mengunduh materi dari internet.

Penggunaan gawai pada anak yang tidak terkendali juga dapat menghambat perkembangan psikomotorik. Selain itu, kebersamaan dengan keluarga di dunia nyata juga menjadi berkurang karena anak lebih senang dengan dunia maya.

Oleh karena itu, Yohana meminta orang tua mengendalikan dan mengawasi penggunaan gawai oleh anak.

“Orang tua yang membiarkan, biasanya juga karena asyik menggunakan gawainya sendiri,” ujarnya.

Di sisi lain, Yohana juga berpesan kepada anak-anak Indonesia agar memahami kapan waktu boleh menggunakan gawai dan kapan tidak boleh menggunakannya.

Saat berkumpul dengan keluarga dan orang tua, seperti saat makan dan berekreasi, sebaiknya anak dan orang tua tidak menggunakan gawai.

Daripada menghabiskan waktu berselancar di dunia maya menggunakan gawai, Yohana meminta anak-anak lebih banyak membaca buku.

“Saya dulu tidak pakai internet, bisa jadi profesor karena membaca buku. Karena itu, perbanyaklah membaca buku,” katanya.

Yohana menyatakan keprihatinannya karena melihat perpustakaan sekolah dan universitas yang sepi karena tidak banyak siswa dan mahasiswa yang memanfaatkannya untuk membaca buku.

Padahal, penggunaan buku lebih utama dalam mencari bahan pustaka daripada internet, apalagi melihat dampak buruk yang ditimbulkan dari radiasi yang dikeluarkan gawai.

Hal positif

Sementara itu, Rudiantara Menteri Komunikasi dan Informatika tidak melarang anak-anak untuk menggunakan media sosial, asalkan memanfaatkan untuk hal-hal yang baik dan positif.

“Kalau mau mengunggah, perbanyak yang positif. Jangan yang negatif,” ujarnya.

Muatan apa pun yang diunggah di media sosial dan internet akan selalu tercatat dan tidak bisa dihapus.

Menurut Rudiantara, tidak hanya tercatat seumur hidup saja, tetapi “seumur-umur”.

Unggahan negatif di media sosial dan internet akan berdampak pada masa depan, misalnya ketika melamar kerja.

Menurut Rudi, perusahaan tidak hanya melihat surat lamaran tetapi juga akun media sosial si pelamar. Bila dalam akun media sosial pelamar terhadap unggahan-unggahan yang dinilai negatif, maka perusahaan tersebut tidak akan segan-segan menolaknya.

“Apa ada perusahaan yang mau menerima calon karyawan yang kerap mengunggah hak-hal negatif? Tidak ada,” tuturnya.

Rudiantara mengatakan pemerintah tengah membangun infrastruktur internet berkecepatan tinggi dengan sasaran seluruh kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Dengan program Palapa Ring, pada 2019 ditargetkan seluruh kabupaten dan kota di Indonesia harus sudah terhubung dengan jaringan internet berkecepatan tinggi.

Salah satu daerah yang sudah dikunjungi Rudiantara terkait dengan pembangunan infrastruktur jaringan internet berkecepatan tinggi adalah Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

Dengan pembangunan jaringan internet berkecepatan tinggi di wilayah tertinggi di Provinsi Papua itu. Maka anak-anak sekolah di daerah tersebut juga dapat menggunakan internet seperti halnya anak-anak di Jakarta.

Meskipun memahami dampak buruk yang mungkin diakibatkan dari penggunaan internet, Rudiantara mengatakan hal itu tidak bisa menjadi alasan pemerintah untuk menghentikan pembangunan infrastruktur internet.

“Menggunakan internet itu hak. Internet bisa membantu proses belajar anak-anak di sekolah,” ujarnya.

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur internet berkecepatan tinggi harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital masyarakat.

“Infrastruktur dibangun, manusianya juga harus dibangun. Namun, pemerintah tidak bisa sendiri untuk meningkatkan literasi digital,” tuturnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah berupaya meningkatkan literasi digital dengan melibatkan banyak pihak, termasuk kementerian atau lembaga, dunia usaha, dan lembaga swadaya masyarakat yang disebut dengan Siberkreasi.

Dengan peningkatan literasi digital, masyarakat, terutama anak-anak, diharapkan bisa memilah dan memilih saat menggunakan internet dan media sosial.

“Harus pandai memilah dan memilih. Pilah dengan meninggalkan yang negatif dan pilih yang positif saja,” pesan Rudiantara.

Jadi, pintarlah mengunakan telepon pintar. (ant/tin)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Surabaya
Sabtu, 27 April 2024
32o
Kurs