Jumat, 18 September 2020

Katib Am PBNU: NU Tetap dalam POP

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Yahya Cholil Staquf Katib Am PBNU pada Kamis (6/8/2020) siang tadi melakukan pertemuan dengan Nadiem Makarim Mendikbud. Foto: Istimewa

Yahya Cholil Staquf Katib Am PBNU pada Kamis (6/8/2020) siang tadi melakukan pertemuan dengan Nadiem Makarim Mendikbud.

Yahya menjelaskan kalau silaturahmi untuk mengurai kekusutan komunikasi yang sempat terjadi.

“Dalam suasana prihatin akibat pandemi dan masyarakat sangat membutuhkan jalan keluar dari berbagai kesulitan, sangat tidak elok kalau kontroversi yang tidak substansial dibiarkan berlarut-larut,” ujar Yahya si Jakarta, Kamis (6/8/2020).

Menurut Katib Am, ia menemui Mendikbud atas persetujuan Rais Am dan Ketua Umum PBNU, untuk menyampaikan keputusan bahwa NU tetap ikut serta dalam Program Organisasi Penggerak (POP) yang diinisiasi oleh Kemendikbud.

Keputusan itu diambil dalam rapat di PBNU pada hari Selasa, 4 Agustus 2020 yang lalu, setelah ada klarifikasi mengenai dua hal.

Pertama, bahwa POP bukan program yang bersifat akar rumput, tapi lebih bersifat laboratorial.

“Memang sudah ada klarifikasi dari Mendikbud sebelumnya bahwa dengan POP ini sebenarnya Kemendikbud hanya bermaksud membeli model inovasi dari berbagai pihak yang menawarkan gagasan,” kata Katib Am,

Kata dia, yang diukur adalah kelayakan gagasan dan perencanaan eksekusinya. Pihak mana pun bisa ikut tanpa harus bergantung pada ukuran organisasi atau keluasan konstituennya.

Untuk menyentuh akar rumput, termasuk warga NU, Kemendikbud menyiapkan sejumlah program lain, misalnya, program afirmasi.

Kedua, bahwa pelaksanaan POP dimulai bulan Januari 2021 yang akan datang, sehingga ada waktu yang cukup untuk menuntaskan pelaksanaan program sepanjang tahun depan.

“Kami mendukung upaya Mendikbud untuk mengambil langkah-langkah kongkret sebagai jalan keluar dari kesulitan-kesulitan masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Kami juga mendukung upaya-upaya pembaharuan untuk memperbaiki kapasitas sistem pendidikan kita dalam menjawab tantangan masa depan. Tentu saja sambil tetap kritis terhadap kekurangan-kekurangan yang ada,” pungkas Yahya.(faz/tin)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Ananda Maharani

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Jumat, 18 September 2020
31o
Kurs