Kamis, 3 Desember 2020
Hari Sumpah Pemuda

Perbanyak Pajanan Bahasa Indonesia Agar Jadi Bahasa Pergaulan Asia Tenggara

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Joko Widodo Presiden mengikuti forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN, khusus membahas masalah Covid-19, secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/4/2020). Foto : Biro Pers Setpres

Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengungkapkan keinginannya agar bahasa Indonesia bisa jadi bahasa pengantar dan pergaulan di Asia Tenggara. Nadiem mengatakan target ini akan menjadi misi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Dr. Suhartono Dosen Linguistik Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Surabaya mengatakan, konten bahasa Indonesia harus bagus dan penggunanya harus bersikap positif dan bangga terhadap bahasa Indonesia.

“Kita mulai dengan menggunakan bahasa Indonesia yang kualitasnya bagus, tataan infomasinya bagus, yang orang kalau membaca bahas Indonesia tersebut, orang merasa bahasa yang dibacanya tidak kalah dengan bahasa asing yang lazim digunakan dalam pergaulan internasional,” ujarnya kepada Suara Surabaya dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2020).

Kemudian, rasa percaya diri bisa ditampakkan dalam banyak hal. Salah satunya pajanan. “Seperti kita ketahui biasanya kita jarang menggunakan ‘pajanan’. Biasanya kita menggunakan exposure. Pajanan bahasa Indonesia harus banyak, melimpah, dan bermutu agar tidak kalah dengan bahasa asing lainnya.”

Kaprodi S3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Pascasarjana Unesa ini juga menyampaikan, pembuktian dan kepercayadirian dalam berbahasa jadi salah satu faktor agar bahasa Indonesia bisa terwujud menjadi bahasa pengantar dan pergaulan di Asia Tenggara.

“Pada satu sisi tetap perlu usaha-usaha untuk memberikan bukti bahwa bahasa Indonesia dapat berkompetisi dengan bahasa-bahasa yang digunakan dalam konteks resmi PBB. Seperti yang kita ketahui ada Inggris, Prancis, Spanyol, Cina, Arab, dan seterusnya,” kata Suhartono.

Pembuktian itu, menurutnya, kadang-kadang terlihat sebagai sesuatu yang jauh dari harapan. “Kita lihat pengguna bahasa Indonesia tidak menunjukkan usaha ke arah itu. Ketika kita dengan mudah mengambil kosakata asing, secara tidak langsung itu mengisyaratkan dalam bahasa Indonesia tidak ada padanan yang layak atau cocok untuk digunakan dalam konteks resmi atau internasional,” ujarnya.(iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah, 12 PMK Di lokasi

Kecelakaan L300 Tabrak Pembatas Tol Sumo

Hujan Deras di Balonggebang Nganjuk

Surabaya
Kamis, 3 Desember 2020
27o
Kurs