Selasa, 27 Oktober 2020

Rapid Test Tidak Menjamin Akurasi Pemeriksaan COVID-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi alat deteksi virus corona (Covid-19). Foto: Shutterstock

Profesor Dokter Aryati Ahli Patologi Klinik Jatim menjelaskan kajiannya tentang rapid test COVID-19 yang akan dijalankan oleh pemerintah dalam waktu dekat, menunggu alat yang masih dalam proses impor.

Sebagaimana dia sebutkan sebelumnya, metode pemeriksaan paling akurat adalah pemeriksaan PCR, yakni pemeriksaan spesimen dari swab tenggorokan dan mulut, untuk mengetahui DNA virus dalam tubuh.

Pemeriksaan ini memerlukan reagen khusus pendeteksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19, serta harus dilakukan dengan peralatan khusus dan oleh tenaga medis berpengalaman.

Ada beberapa metode pemeriksaan COVID-19 dibedakan dalam hal tingkat akurasi. Paling akurat, sebagaimana disepakati para ahli patologi klinik, memang Polymerase Chain Reaction (PCR).

Tingkat keakuratan lebih rendah, ada metode pemeriksaan kultur darah (atau pembiakan mikroorganisme) untuk mendeteksi adanya bakteri, jamur, parasit, atau virus di dalam darah.

“Kalau kulturnya positif, berarti bener, nih, positif ada patogen-nya. Apakah itu virus atau bakteri. Tapi kalau misalnya tidak bisa dengan metode kultur, berarti pakai metode bawahnya lagi,” ujarnya.

Ada dua metode dengan akurasi lebih rendah, yakni pemeriksaan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), dan pemeriksaan antibodi itu sendiri, zat pemusnah bakteri atau virus dalam darah.

Kedua metode itu yang bisa dipilih untuk rapid test (tes cepat). “Nah, untuk rapid test yang akan beredar, tampaknya rapid test untuk deteksi antibodi, pemeriksaan paling rendah,” ujarnya.

Keunggulan rapid test antibodi ini, kata Aryati, memang sangat mudah. Cukup dengan mengetes sampel darah pasien. Sangat berbeda dengan PCR maupun antigen dari swab tenggorokan dan mulut.

Tes Antibodi dan Akurasinya

Lebih detail Profesor Aryati menjelaskan. Antibodi sebagai zat pemusnah virus dan bakteri di dalam darah baru akan muncul ketika bakteri atau virus itu sudah masuk ke dalam tubuh seseorang.

Artinya, pembentukan antibodi ini perlu waktu, bergantung masa inkubasi bakteri atau virus dalam darah. Selain itu, akan sulit memastikan bahwa virus yang masuk dalam darah memang virus penyebab COVID-19.

Nama resmi virus penyebab penyakit COVID-19 adalah SARS-CoV-2 yang diketahui adalah mutasi virus SARS-CoV, penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang juga menyebar dari China 2002 silam.

“Kita tahu, 20 tahun ini virus corona, termasuk SARS-CoV, sudah ada di dunia. Sudah umum sebagai penyebab infeksi saluran pernafasan atas sampai dengan radang paru yang disebut pneumonia,” katanya.

Artinya, beberapa virus seperti Human Patogenik CoV, H-CoV, H-SARS-CoV, serta MERS CoV, adalah virus corona pada mutasi genetika lebih awal yang semuanya bisa memunculkan antibodi dalam darah.

“Khawatirnya, antibodi yang terdeteksi alat rapid test adalah antibodi dari virus-virus sebelumnya. Karena alat itu, begitu mendeteksi antibodi virus corona, hasilnya akan positif,” ujarnya.

Sebagai ahli patologi klinik, dia pun menyarankan, bila hasil rapid test menunjukkan hasil positif, perlu ada langkah selanjutnya untuk memastikan bahwa pasien benar-benar positif COVID-19.

“Pemeriksaan lanjutannya, ya, menggunakan tes PCR. Tes dengan tingkat kepercayaan paling tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, bila hasil rapid test pengecekan antibodi itu menunjukkan pasien negatif. Itupun tidak menutup kemungkinan merupakan hasil yang tidak benar-benar negatif.

“Bisa saja si pasien sebenarnya sakit, terinfeksi SARS-CoV-2, tapi antibodinya belum terbentuk karena masih dalam masa inkubasi. Sehingga seolah-olah hasil rapid test-nya negatif. Namanya false negatif atau negatif palsu,” ujarnya.

Aryati menyarankan, meski hasil tes cepat menunjukkan seseorang negatif COVID-19, perlu dilakukan tes ulang tujuh atau 10 hari ke depan untuk memastikan bahwa tidak ada antibodi yang muncul, alias orang tersebut tidak terjangkit virus.

“Karena kalau itu tidak dilakukan, justru bahaya. Tadi, bisa saja sebenarnya dia positif, bisa menularkan ke yang lain, tapi belum terdeteksi dengan alat rapid test antibodi,” katanya.

Dia mengakui, proses pemeriksaan dengan rapid test, memang hasilnya tidak seperti namanya. Meski nama tes itu tes cepat, untuk menemukan hasil yang akurat, tetap harus dilakukan rangkaian proses yang cukup lama. Metode PCR tetap menjadi penentu positif tidaknya seorang pasien mengidap COVID-19. (den/ang/ipg)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Pengunjukrasa Melintas di Diponegoro

Hujan di Bratang Surabaya

Kecelakaan Melibatkan Dua Truk di Pandaan

Kebakaran Gudang di Simorejo Sari

Surabaya
Selasa, 27 Oktober 2020
30o
Kurs