Kamis, 21 Oktober 2021

Butuh Persiapan Multidimensi supaya Surabaya Menjadi Kota Wisata Medis

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Masyarakat menikmati sore di depan Patung Suro dan Boyo terbesar di Taman Suroboyo, Kenjeran, Surabaya, Selasa (2/7/2019). Foto: Denza suarasurabaya.net

Kota Surabaya dipilih menjadi salah satu pilot project Kota Wisata Medis di Indonesia. Untuk mewujudkan itu banyak persiapan dan pengembangan di banyak sektor atau multidimensi. Akhyari Hananto Founder Good News From Indonesia mengatakan, tidak hanya soal fasilitas kesehatan, Surabaya juga butuh kesiapan dari segi transportasi, aksesibilitas, akomodasi, lingkungan yang bersih, juga budaya masyarakat yang sehat.

Dari segi lingkungan, kata pria yang akrab disapa Ari itu, Surabaya harus mencerminkan kota yang bersih dan sehat. Contoh kecilnya yakni dengan memunculkan kesadaran tidak merokok sembarangan. Pemahaman ini harus sejajar dengan misi Surabaya sebagai kota Wisata Medis.

“Coba kita bandingkan dengan Bangkok misalnya. Begitu kita turun, kita melihat lingkungan yang bersih, lalu lintas lancar. Orang Thailand juga nggak suka merokok sembarangan. Orang ke Surabaya itu mulai A sampai Z juga harus bersih semua dan itu PR besar” kata Ari kepada Radio Suara Surabaya, Senin (27/9/2021).

Menurutnya, kesadaran masyarakat terhadap pola hidup yang sehat juga perlu dibangun. Tentunya diperlukan peran serta pemerintah dalam hal insentif ekonomi dan membangkitkan kembali kesadaran pentingnya kesehatan.

Selain dukungan masyarakat, Surabaya juga membutuhkan destinasi wisata pendukung bagi para pasien maupun keluarga pasien yang menjalani pengobatan.

Masih mencontohkan Bangkok, Ari melihat rumah sakit internasional di Bangkok juga memperhatikan aksesbilitas ke ruang publik yang bisa menarik wisatawan. Seperti Taman Lumphini yang menawarkan ruang publik terbuka, pepohonan, dan taman bermain beserta berisi danau buatan.

“Rumah sakit internasionalnya juga berdekatan dengan Lumpini Park, itu seperti Central Park di New York. Jadi pasien kalau habis berobat, keluarganya, bisa ke sana dan jaraknya tidak terlalu jauh,” lanjutnya.

Menurut Ari, strategi ini cocok mengingat para pasien beserta keluarga juga membutuhkan ruang terbuka hijau yang menyenangkan setelah berkutat dengan pengobatan di rumah sakit.

Meski begitu, ia sangat mendukung program medical tourism di Surabaya untuk meningkatkan perekonomian daerah mengingat fasilitas dan dokter di Surabaya tak kalah dengan luar negeri.

Ia juga berharap Pemprov Jatim turut membantu untuk mempromosikan destinasi wisata di Jawa Timur bagi kepada para wisatawan yang datang ke Surabaya.

“Kalau ngomong Surabaya tidak bisa melupakan Jatim. Jatim bisa menawarkan banyak hal (paket wisata). Kalau Surabaya belum bisa, kita juga tawarkan Jatim. Tapi again, ini langkah awal yang bagus,” ujarnya.

Soft launching Kota Surabaya sebagai kota wisata medis di Indonesia rencananya akan digelar hari ini, bertepatan dengan Hari Pariwisata Internasional, 27 September.(tin/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Kamis, 21 Oktober 2021
28o
Kurs