Rabu, 8 Desember 2021

Dampak Libur Idul Fitri, Kasus Covid-19 Naik 15,1 Persen Pekan Ini

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Prof Wiku Adisasmito Koordinator Tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) penanganan Covid-19. Foto: Antara

Wiku Adisasmito Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 mengumumkan kenaikan kasus positif pekan ini mencapai 15,1 persen. Meski begitu, kenaikan pekan ini lebih rendah dibanding Minggu lalu.

“Per tanggal 30 Mei 2021 setelah pada minggu sebelumnya terjadi kenaikan kasus positif mingguan yang cukup tinggi yaitu 36,8 persen, di minggu ini kenaikannya lebih rendah yaitu naik 15,1 persen,” ujar Wiku dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta Timur, Jumat (4/6/2021).

Menurut Wiku, Minggu lalu sudah mulai memasuki minggu kedua pasca libur Idul Fitri, artinya kenaikan kasus positif pada periode ini sudah dapat diklaim sebagai dampak dari libur Idul Fitri.

Kata dia, kenaikan kasus positif di minggu ini dikontribusikan oleh lima provinsi dengan kenaikan kasus positif tertinggi yaitu Jawa Tengah naik 1.181, Riau naik 1.550, Kepulauan Riau naik 771, Aceh naik 692 dan DKI Jakarta naik 523.

Selanjutnya angka kematian pada minggu ini mengalami penurunan setelah pada minggu lalu mengalami kenaikan.

“Di minggu ini angka kematian turun sebesar 15,1 persen, dan hal ini merupakan perkembangan yang sangat baik bahwa di tengah naiknya kasus positif, angka kematian dapat kita tekan,” tegasnya.

Namun demikian, Wiku tetap akan menyampaikan lima provinsi dengan angka kematian tertinggi yaitu Riau, Kepulauan Riau, NTB, Kepulauan Bangka Belitung dan Bengkulu.

Adanya kenaikan kasus positif di provinsi Jawa Tengah, menurut Wiku, karena Jawa Tengah merupakan destinasi mudik yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat Indonesia.

“Pada saat periode Idul Fitri di provinsi Jawa tengah mobilitas penduduk ke tempat wisata pada tanggal 13 sampai dengan 19 Mei lalu juga cukup tinggi bahkan mencapai 51 persen,” kata Wiku.

Wiku menjelaskan, kenaikan di DKI Jakarta sebaliknya bahwa Jakarta merupakan destinasi arus balik mudik, artinya orang-orang yang kembali dari mudik banyak menuju ke DKI Jakarta. Hal ini menyebabkan penularan yang mungkin terjadi di wilayah tujuan mudik dapat terbawa hingga kembali ke DKI Jakarta.

“Hal ini juga didukung dengan data mobilitas penduduk pasca Idul Fitri dari luar Jabodetabek menuju Jabodetabek meningkat cukup tajam dalam meningkatkan penularan di tengah masyarakat.

“Indonesia sebagai negara yang terdiri dari banyak suku dan budaya serta tradisi masing-masing kelompok masyarakat apabila tidak diantisipasi dengan baik dapat memicu kenaikan kasus Covid-19 karena aktivitas dalam tradisi ini sebagian besar diikuti oleh masyarakat dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan kerumunan,” ungkapnya.

Tradisi masyarakat Indonesia menuju Idul Fitri yaitu mengunjungi pusat perbelanjaan melakukan mudik hingga berkumpul bersama keluarga di tempat wisata merupakan beberapa contoh aktivitas yang menyebabkan kenaikan kasus. Setidaknya pada lima provinsi dengan kenaikan kasus tertinggi ini.

“Untuk itu saya sampaikan kepada masyarakat bahwa berkerumun dapat meningkatkan penularan Covid-19 bukanlah suatu hal yang mengada-ada dan tidak dapat dibuktikan. Selalu saya tekankan pada periode Idul Fitri kemarin bahwa kita harus menjaga diri dan orang terdekat kita dari bahaya tertular Covid-19 dengan sebisa mungkin tidak bepergian ke luar rumah apalagi melakukan perjalanan antar wilayah,” ujar Wiku.

“Dengan adanya kenaikan kasus ini, saya berharap kita dapat mengambil pelajaran dan memperbaiki lagi penanganan Covid-19 serta kepatuhan kita dalam menjaga protokol kesehatan, terutama pada periode-periode libur panjang yang akan datang,” pungkas Wiku.(faz/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Rabu, 8 Desember 2021
24o
Kurs