Sabtu, 23 Oktober 2021

Positivity Rate Jatim Rendah, Tapi Khofifah Minta Testing Rate Ditingkatkan dan Tetap Disiplin Prokes

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubenur Jawa Timur saat meninjau langsung pelaksanaan Vaksin Terima Kasih di GOR Delta, Sidoarjo pada Rabu (1/8/2021). Foto: Totok suarasurabaya.net

Kementerian Kesehatan melaporkan per tanggal 4 September 2021, positivity rate mingguan di Jatim telah mencapai 4,01 persen. Capaian itu sudah sesuai standar pengendalian pandemi dari WHO yakni di bawah 5 persen dan di bawah positivity rate mingguan nasional yang berada di angka 6,97 persen.

Atas capaian itu, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur berterimakasih atas kerja keras dan partisipasi semua pihak yang ikut mencegah penyebaran Covid-19 di Jatim.

“Alhamdulillah positivity rate mingguan kita sekarang sudah sesuai WHO di bawah 5 persen yaitu 4,01 persen, bahkan juga di bawah nasional. Ini pertama kali selama pandemi Covid-19. Hal ini berseiring bahwa zonasi daerah asesment level 4 di Jatim hanya tinggal empat kabupaten/kota (Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten Blitar dan Kota Blitar),” ungkap Gubernur Khofifah di Badan Penghubung Provinsi Jatim, Jalan Pasuruan, Jakarta, Senin (6/9/2021).

Khofifah menjelaskan, capaian ini dipengaruhi oleh masifnya testing dan tracing yang lebih efektif. Dengan standar jumlah tes yang di tetapkan WHO yaitu 1:1.000 penduduk/minggu, Jatim seharusnya melakukan test 40.000/minggu. Sementara, minggu kemarin jumlah testing di Jatim telah mencapai 90.045. Yang artinya angka tes di Jatim sudah mencapai lebih dari 2 kali lipat standar WHO.

“Idealnya testing minimal yang dilakukan di Jatim adalah kurang lebih sekitar 40.000 tes tapi kita sudah berhasil mencapai lebih 2 kali lipat dari target tersebut,” tukas orang nomor satu di Pemprov Jatim ini melalui keterangan tertulis.

Selain itu, lanjut Khofifah, untuk pelacakan kasus Covid-19 di Jatim juga mengalami peningkatan yang signifikan dari yang sebelumnya 1,17 sekarang naik menjadi 11,75. Yang artinya kapasitas tracing di Jawa Timur naik 10 kali lipat.

“Harapannya ke depan positivity rate yang semakin rendah ini dan testing rate maupun tracing ratio yang semakin tinggi  bisa terus dipertahankan. Karena terbukti kombinasi ini sangat efektif menurunkan jumlah penyebaran Covid-19 di Jatim,” tegasnya.

Khofifah menambahkan, bahwa kombinasi menurunnya positivity rate dan tingginya tracing ratio maupun testing rate sangat mempengaruhi penurunan keterisian tempat tidur di rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) di Jatim. Dimana, tambahan BOR di Jatim turun menjadi 22,48%. Disamping itu, tingkat kematian juga menurun dari 5,5/100 ribu penduduk per minggu menjadi 2,11/100 ribu penduduk.

“Tingkat keterisian tempat tidur atau BOR di Jatim ini juga sudah berada sangat jauh di bawah standar WHO yaitu di bawah 60 persen,” tutur gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Di akhir, Gubernur Khofifah meminta semua pihak dapat mempertahankan capaian ini baik positivity rate maupun posisi zonasi level daerah. Selain itu, seluruh elemen masyarakat diminta tidak lengah dan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) di mana pun berada. Sehingga, ke depan Covid-19 makin terkendali dan terus melandai.

“Saya mohon kepada semua pihak dan masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, mengikuti vaksinasi, tracing dan testing-nya juga terus kita tingkatkan,” pungkasnya. (iss/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Sabtu, 23 Oktober 2021
30o
Kurs