Selasa, 16 Agustus 2022

Kemendikbudristek Berencana Usulkan Jalur Rempah Jadi Warisan Dunia ke Unesco

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Nadiem Anwar Makarim Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) bersama Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) melepas Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci yang membawa para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 di Surabaya, Rabu (1/6/2022). Foto: Humas Kemendikbudristek

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) berencana akan mengusulkan jalur rempah sebagai warisan dunia ke Unesco. Hal tersebut disampaikan Sjamsul Hadi Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek

Sjamsul menjelaskan, bahwa jalur rempah yang menjadi jalinan perdagangan terbesar dunia menciptakan simpul-simpul kerja sama dan menjadikan Indonesia menjadi wilayah strategis dalam perdagangan dunia.

“Tak bisa kita pungkiri bahwa interaksi Indonesia dengan dunia internasional telah dimulai berabad-abad lalu hingga perdagangan rempah menjadi bagian NKRI ini berwujud di mata dunia,” ujarnya di Makassar, Senin (6/6/2022) dilansir Antara.

Sjamsul Hadi hadir di Makassar bersama rombongan laskar rempah dari 34 provinsi se Indonesia, pada program napak tilas jalur rempah. Makassar menjadi kunjungan ke dua setelah berangkat dari Surabaya, Jawa Timur.

Program jalur rempah ini dipilih untuk menegaskan ketersambungan daerah-daerah di Indonesia dan konektivitas historis Indonesia dengan daerah lain di negara lain.

Empat hari berada di Sulawesi Selatan sejak Jumat (3/6/2022) lalu, rombongan akan kembali melanjutkan pelayaran ke Bau-Bau, Buton serta sejumlah wilayah yang memiliki sejarah jalur rempah di Indonesia.

“Pemberangkatan hari ini laskar jalur rempah menuju Bau-bau, Buton, dan dilanjutkan ke Ternate, Banda Neira, Kupang dan peserta pelayanan jalur rempah terdiri dari 149 anak terpilih dari 34 provinsi,” ujarnya.

Sjamsul menjelaskan, Nusantara sendiri selalu menjadi tujuan pelayaran perdagangan Asia Timur, Asia Selatan, Asia Barat dan Eropa untuk berburu rempah, cendana, lada, kamper, gaharu, dan produk rempah lainnya.

“Oleh karena itu, melalui program ini diharapkan dukungan dari provinsi dan kabupaten/kota, sebab jalur rempah ini kita rencanakan diusulkan sebagai warisan dunia UNISCO,” katanya.

Menurut dia, dengan fokus cagar budaya, warisan budaya tak benda, program jalur rempah bergerak lebih terarah untuk merevitalisasi jalur rempah.

“Dengan cara ini diharapkan spirit jalur rempah yang hidup menjadi nilai dan gaya hidup masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, sastra, seni dan seterusnya,” kata dia.

Rempah dilihat sebagai koridor untuk menghidupkan kembali dan menggiatkan interaksi antar budaya, tidak hanya lintas perdagangan komoditas sebagai peradangan diplomasi budaya Indonesia secara sistematis dan masif, dengan bersinergi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.

Interaksi antar-budaya bisa dimulai dari pemberdayaan komunitas rempah, pengembangan edu wisata jalur rempah, pertunjukan seni hingga pengetahuan dan teknologi tradisional pengobatan, workshop dan lain sebagainya. (ant/bil/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Selasa, 16 Agustus 2022
25o
Kurs