Rabu, 6 Juli 2022

Empat Titik Saksi Sejarah Jalur Rempah di Surabaya

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Sarasehan Sejarah Jalur Rempah di Gedung Merah Putih Komplek Balai Pemuda Alun-Alun Surabaya, Minggu (29/5/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Jauh sebelum kisah kepahlawan mengharumkan nama Kota Surabaya, rempah-rempah telah membawa nama kota ini melanglang buana. Catatan sejarah menunjukkan ada empat tempat yang menjadi saksinya.

Hal tersebut dikemukakan Profesor Purnawan Basundoro Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga dan Nanang Purwono Ketua Komunitas Begandring Soerabaia dalam sarasehan Sejarah Jalur Rempah, di Balai Pemuda, Minggu (29/5/2022).

Prof. Basundoro menyebutkan, tempat pertama yang menjadi saksi bisu jalur rempah adalah Pelabuhan Kalimas Surabaya. Kalimas memang bukan daerah penghasil rempah. Namun, pelabuhan itu menjadi tempat transit perdagangan rempah-rempah, terutama dari Indonesia bagian Timur.

“Sumber eksistensi Pelabuhan Surabaya terbukti dengan adanya laporan Ma Huan tentang perjalanan Laksamana Cheng Ho pada 1405-1421,” ujar Basundoro yang juga Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya.

Karena berstatus sebagai transit, artinya komiditi rempah dari Indonesia Timur dikumpulkan di Surabaya. Kemudian dibawa lagi menuju ke pelabuhan-pelabuhan berikutnya.

Tempat kedua adalah kawasan Pecinan. Basundoro menyebutkan adanya kawasan pemukiman etnis Tionghoa adalah bukti perdagangan jalur rempah. “Pada masa prakolonial, perdagangan sebagian besar dilakukan oleh pedagang Tionghoa,” terangnya.

Kemudian, tempat ketiga adalah Pasar Pabean. Pasar yang masih beroperasi hingga saat ini, juga menjadi bentuk nyata jalur rempah di Surabaya. Komoditi rempah dari berbagai kawasan pedalaman pada masa itu, seperti Kediri, sebelum diangkut ke kapal juga diperdagangkan di Pasar Pabean.

“Sampai sekarang masih ada yang dagang rempah di sana. Kayu manis, cengkeh, merica, dan bahan lainnya,” ujarnya lagi.

Lokasi keempat warisan jalur rempah, kata Nanang Purwono menyambung Basundoro, ada di Krembangan Barat. Mayoritas nama jalan di kawasan itu diambil dari nama rempah-rempah.

“Ada Jalan Kunir, Jalan Gula, dan banyak lagi. Surabaya memang bukan penghasil, tapi jadi simpul perdagangan di Nusantara dari masa ke masa. Maka dari itu 2024 harapannya UNESCO bisa mengakui jalur rempah itu milik Indonesia,” kata Nanang saat Sarasehan.

Turut hadir dalam sarasehan Sejarah Jalur Rempah, mahasiswa Surabaya dan Malang, serta Komunitas Kebaya Indonesia (KKI) Surabaya.

Sebelumnya, pameran fotografi, lukisan, dan instalasi Muhibah Budaya Jalur Rempah sudah digelar pada 27-31 Mei 2022.

Selain dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-729, sarasehan tersebut juga mendukung program Muhibah Budaya Jalur Rempah yang diselenggarakan Kemendikbusristek. Kapal yang mengangkut pemuda-pemudi Laskar Rempah dari 34 provinsi akan berlayar mengarungi samudra dan singgah di enam titik pada 1 Juni-2 Juli 2022. Mulai dari Surabaya ke Makassar, Baubau-Buton, Ternate-Tidore, Banda, dan Kupang.(lta/bil/iss)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
27o
Kurs