Selasa, 18 Januari 2022

Pakar Transportasi ITS Pertanyakan Indikator Survei Surabaya Jadi Kota Termacet

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Ilustrasi

Menanggapi adanya hasil survey dari Global Traffic Scorecard pada 2021 yang dirilis INRIX sebuah perusahaan analisis data lalu lintas (lalin) yang merilis bahwa Surabaya menjadi kota termacet di Indonesia.

Hera Widyawati, Pakar Laboratorium Transportasi Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember Surabaya mempertanyakan indikator survei yang menggunakan GPS anonim, pengambilan data dari  dari mobile atau provider.

“Karena satu orang bisa memiliki dua hape, dan dalam satu hape ada dua sim card jadi per orang bisa terdeteksi lebih dari satu, kemudian yang tidak bisa terdeteksi adalah jenis kendaraan,” jelas Hera di acara Jumpa Pers di Kantor Pemkot Surabaya, Jumat (14/1/2022).

Hera mengatakan  bahwa arus lalu lintas Kota Surabaya masih bisa terjangkau. Maka, menurut dia alangkah lebih bijak bila melihat sebuah kemacetan adalah berdasarkan travel time.

“Kalau mau melihat suatu kemacetan, satu jalan saja itu mungkin akan berbeda dengan kalau kita melihat beberapa jalan. Jadi mungkin akan lebih bijak kalau melihat travel time,” urainya.

Sebagai pengamat sekaligus pengguna jalan, jika dibandingkan kota lain, Surabaya jauh lebih lancar.

Kata Hera kemacetan yang terjadi di Kota Surabaya hanya pada waktu tertentu, serta pada beberapa akses keluar masuk kendaraan di Kota Surabaya.

Di sisi lain, soal hasil survei tersebut dia mengajak untuk menanggapi dari sisi positif.

Keep positif ini berarti Surabaya sudah bisa mengendalikan Covid-19 sehingga perekonomiannya mulai bangkit,” kata Hera.

Senada dengan hal tersebut, Wahyu Herianto Pakar Laboratorium Transportasi Institut Teknologi Sepuluh (ITS) Nopember Surabaya menyampaikan, bahwa dia juga heran dengan kesimpulan survei tersebut.

Menurut dia, apabila survei yang dilakukan pada tahun 2021 saat pandemi dan pengguna angkutan umum yang kurang maksimal, maka bisa menjadi catatan penting.

“Sebetulnya melalui aplikasi Maps akan memudahkan para pengguna untuk memantau kepadatan lalu lintas. Semoga di masa depan bila angkutan umum semakin banyak, maka pengguna kendaraan pribadi bisa beralih atau pindah ke angkutan umum,” kata dia.

Ia menambahkan, apabila melihat situasi kepadatan lalu lintas sebelum dan sesudah pandemi Covid-19, terlihat bahwa kondisi saat ini level service di Kota Surabaya menunjukkan pada kategori C. Artinya, cukup bagus, padahal sebelum pandemi Kota Surabaya berada pada kategori D yang berarti relatif macet.

“Jika survei dilakukan pada saat pandemi, artinya belum normal bila kita semua tidak berupaya agar pengendara kendaraan pribadi itu beralih ke angkutan umum, maka akan terjadi Surabaya semakin macet,” jelasnya.

Mengenai hasil survei tersebut pihaknya juga tidak bisa menghubungi perusahaan analisis data lalu lintas tersebut. Oleh karena itu, terus melakukan pemantauan melalui pemberitaan pada beberapa media.(man/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Senja Penutup Tahun

Truk Derek Ringsek Setelah Tabrak Truk Gandeng Parkir

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Surabaya
Selasa, 18 Januari 2022
30o
Kurs