Jumat, 1 Maret 2024

Jadi Khatib di Masjid Al-Akbar, M. Nuh Bahas Generasi Saleh dan Pemerataan Pendidikan

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Jemaah yang salat Iduladha di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya meluber hingga di luar masjid, Kamis (29/6/2023) pagi. Foto: Wildan suarasurabaya.net

Hampir 40 ribu jemaah dari Surabaya dan sekitarnya memadati Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya untuk melaksanakan salat Iduladha 1444 H, Kamis (29/6/2023) pagi.

Mohammad Nuh khatib salat Iduladha di Masjid Al-Akbar menyampaikan pentingnya untuk menciptakan generasi saleh dan pemerataan pendidikan. “Generasi saleh adalah mereka yang memiliki keutuhan dalam kompetensi, sikap, keterampilan, dan pengetahuan,” ucap mantan Menteri Pendidikan itu dalam khutbahnya.

Menurutnya M. Nuh, generasi saleh bisa memberikan dampak kesejahteraan secara luas yang bermanfaat untuk masyarakat. Salah satu upaya untuk menciptakan generasi tersebut adalah dengan pemerataan pendidikan.

Suasana jemaah ketika shalat id di dalam Masjid Al Akbar Surabaya, Kamis (29/6/2023). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Katanya, pendidikan harus sepenuhnya dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. “Anak saleh tidak bisa menjadi saleh tanpa adanya ilmu yang bermanfaat,” tuturnya.

M. Nuh menambahkan, apabila setiap anak mendapat pendidikan yang layak maka perlu inovasi baru yang wajib diciptakan di setiap bidang ilmu.

“Ilmu ada batas waktunya, mungkin saat ini berjalan tapi di masa yang akan datang bisa tidak berjalan, makanya perlu adanya inovasi,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, M. Nuh juga membahas esensi haji. Katanya, haji adalah ibadah yang penuh pergerakan, sangat dinamis dalam dimensi posisi (ruang) dan waktu, yang bukan dilakukan ’sendirian’, tetapi pergumulan dan interaksi antar jemaah (kolaborasi-sinergi) atau semangat “ke-Kita-an” (menang bersama).

“Semangat ta’awun (saling membantu-kolaborasi-sinergi) dan ego sentris seringkali berbenturan dalam prosesi haji tersebut, dan itulah fakta dan realitas kehidupan. Memang ada filosofi yang berbeda antara kompetisi-lomba (musabaqoh) dan kolaboratif-sinergis (mu’awwanah),” katanya.

Dalam berlomba (fastabiqu: to be in advance), untuk meraih kemenangan memang harus mengalahkan yang lain, sehingga jargon utamanya adalah indeks daya saing (competitiveness index).

Namun, sangat berbeda dengan kolaboratif-sinergis, yang untuk menjadi terbaik (‘pemenang’) tidak harus mengalahkan yang lain, tetapi bisa menang bersama, sukses bersama dengan besaran kemanfaatan (gain) yang ditentukan besarnya kontribusi dalam kolaborasi.

“Itulah esensi kolaborasi-sinergi (mu’awwana) dalam meraih kemenangan dan kesuksesan. Esensi ke-kitaan lebih dominan dibanding ke-akuan. Nahnu-isme lebih dominan dibanding Ana-isme, apalagi prosesi ibadah haji tidak mengenal perbedaan berdasar unsur primordial (suku, ras, bangsa, profesi, status sosial), yang ada hanya hamba dan tamu Allah,” terangnya.

“Tentu, harapan kita adalah bagaimana kita bisa melakukan transformasi dari ‘saya’ atau ‘aku’ menjadi ‘kami’, dan ‘kami’ menjadi ‘kita’. Yakinlah, kedahsyatan akan diperoleh dalam bingkai KITA (Power of WE). Kekitaan sebagai spirit (value), sedangkan gotong royong dengan prinsip kesalingan (mutuality) sebagai aksinya,” imbuhnya.

M. Nuh juga menjelaskan semangat ke-kitaan dan gotong royong yang dirintis oleh pendiri Bangsa dan Negara Indonesia, bukanlah sesuatu yang didapat secara serta merta (given), tetapi melalui proses yang panjang, kompleks dan berat.

“Tidakkah, salat berjamaah (ke-kitaan) memiliki nilai yang jauh lebih besar dibanding salat sendirian (ke-akuan). Dan tidakkah, mendahulukan kepentingan umum (ke-kitaan), dibanding kepentingan diri (ke-akuan), termasuk bagian dari kemuliaan dan pengorbanan,” kata Mustasyar PBNU itu.

Selain haji, iduladha juga diingatkan tentang pentingnya meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, terkait pentingnya menyiapkan generasi yang memiliki keutuhan kompetensi sikap (attitude), ketrampilan (skills) dan pengetahuan (knowledge).

“Generasi yang memiliki keutuhan kekuatan logika (kebenaran), etika (kebaikan) dan estetika (keindahan). Itulah nilai keteladanan yang luar biasa, yang bisa kita ambil, diantaranya pentingnya hujjah atau pola pikir berbasis rasionalitas, pola pikir terbuka (open mind) di dalam proses mencari kebenaran. Juga, pentingnya membangun dalam skala dzurriyat (generasi bergenerasi), yang berbasis pada tiga hal, yakni tilawah (skills), ta’allim (knowledge). dan tazkiyah (attitude), sebagaimana doa Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail [QS: 2:129],” katanya.

Dalam hadits-nya, Nabi Muhammad SAW mengajarkan amalan yang memiliki nilai kemanfaatan sewaktu di dunia sampai di akhirat adalah sedekah jaryah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang sholeh yang mau mendoakan orang tuanya. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS juga mengajarkan kepatuhan sang anak kepada orang tuanya.

“Menjadi tugas utama kita untuk menyiapkan orang yang saleh tersebut sampai pada level generasi (dzurryat). Begitu jumlah orang jahatnya lebih besar dari orang baik (saleh) maka rusaklah tatanan kehidupan kita. Untuk itu, harus disiapkan sumberdaya yang bersifat strategis pula, bukan sumberdaya yang bersifat taktis,” katanya.

Salat Iduladha kali ini juga diikuti oleh sejumlah pejabat. Antara lain Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jawa Timur (Jatim) dan Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jatim.

Usai melangsungkan salat, Khofifah dan Emil langsung memberikan sapi kurban milik presiden dan para Forkopimda lain kepada perwakilan pengurus masjid di Surabaya dan Sidoarjo secara simbolis. (wld/saf/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Jumat, 1 Maret 2024
32o
Kurs