Jumat, 12 Juni 2026

Angka Jemaah Wafat Tertinggi di Nasional, Kemenhaj Beri Catatan Khusus Bagi Jatim

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Dahnil Anzar Simanjuntak Wakil Menteri Haji dan Umroh (Wamenhaj) saat menyambut kedatangan jemaah haji di Asrama Haji Surabaya, Jumat (12/6/2026). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memberikan catatan khusus bagi Jawa Timur (Jatim) karena menyumbang angka kematian jemaah haji tertinggi secara nasional. Berdasarkan data Kemenhaj, sebanyak 65 jemaah haji dari Embarkasi Surabaya dilaporkan wafat selama penyelenggaraan ibadah haji 2026.

Dahnil Anzar Simanjuntak Wakil Menteri Haji dan Umroh (Wamenhaj) mengatakan, angka kematian tahun ini memang mengalami penurunan dibanding tahun lalu yang tembus sampai angka 100 jemaah. Namun Provinsi Jatim masih menjadi penyumbang jumlah jemaah wafat tertinggi di Indonesia pada tahun 2026 ini.

“Hari ini 65 orang. Walaupun memang ada penurunan signifikan dibandingkan tahun yang lalu,” ujar Wamenhaj saat ditemui di Asrama Haji Surabaya, Jumat (12/6/2026).

Oleh karena itu, Dahnil memberi catatan khusus bagi Jatim supaya memperketat sistem istitha’ah atau pemeriksaan kesehatan dengan indikator kesanggupan melaksanakan ibadah haji.

Sistem istitha’ah tersebut berlangsung di tingkat daerah. Jemaah haji bakal dipastikan kondisi kesehatannya sebelum para jemaah berangkat ke Asrama Haji Debarkasi Surabaya

“Catatan buat Jawa Timur ke depan memang yang harus kita perketat itu istitha’ah kesehatan. Karena Jawa Timur adalah salah satu daerah yang tingkat mortalitasnya tinggi, tingkat kematian jemaahnya tinggi,” jelasnya.

Wamenhaj menegaskan, nantinya pemeriksaan bakal difokuskan pada kondisi kesehatan yang berpotensi menimbulkan risiko tinggi saat menjalankan ibadah haji, terutama bagi jemaah dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Upaya itu diharapkan dapat meminimalisir angka kematian jemaah dari Jatim pada penyelenggaraan ibadah haji tahun depan.

“Oleh sebab itu ke depan memang istitha’ah kesehatan akan kita perketat. Tentu di pusat kesehatan haji kita akan lebih memperketat supaya beliau-beliau yang berangkat itu memang kesehatannya prima dan itu bisa menekan jumlah kematian yang terjadi di tanah suci,” jelasnya.

Terkait penyebab wafatnya puluhan jemaah, Dahnil menyebut mayoritas dipicu gangguan pernapasan seperti pneumonia, penyakit jantung, serta kondisi komorbid.

“Mayoritas itu pneumonia, pernapasan, jantung karena memang punya komorbid dari dalam tubuh. Kalau itu kan istitha’ah menjadi catatan serius,” ujarnya.

Meski begitu, Dahnil menegaskan bahwa usia tidak dapat menjadi satu-satunya tolok ulur kelayakan kesehatan calon jemaah. Menurutnya, kondisi fisik dan kebugaran jauh lebih menentukan dibanding faktor umur semata.

“Kalau umur, ini debatable karena bukan ukuran. Ada bapak-bapak umur 70 tahun petani tapi sehat bugar. Sementara yang umur 40 atau 50 tahun kadang-kadang kondisinya sudah seperti 70 tahun,” tandasnya.(wld/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Surabaya
Jumat, 12 Juni 2026
28o
Kurs