Selain PM2.5, asap karhutla dapat mengandung sejumlah senyawa seperti nitrogen dioksida, ozon, hidrokarbon aromatik, hingga berbagai bahan organik hasil pembakaran.
Campuran zat tersebut dapat membentuk polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan jika terhirup dalam jumlah tertentu.
Tjandra mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan gejala kesehatan setelah terpapar asap karhutla. Gangguan pernapasan maupun nyeri dada menjadi tanda yang perlu diperhatikan dan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Di tengah meluasnya dampak karhutla, Kementerian Kesehatan melaporkan kebakaran hutan dan lahan hingga Jumat (21/8/2026) telah berdampak terhadap 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap akibat karhutla.

NOW ON AIR SSFM 100

