Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat membawa partikel dan senyawa berbahaya yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan.
Warga di wilayah terdampak karhutla pun diimbau meningkatkan perlindungan diri dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, menjaga kondisi tubuh menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla.
“Perlu selalu menjaga dan memelihara kesehatannya. Perilaku hidup bersih dan sehat harus terus diterapkan agar daya tahan tubuh terjaga baik, sehingga dampak asap kebakaran hutan akan dapat dikendalikan dengan baik,” kata Tjandra pada Senin (24/8/2026).
Selain menjaga kesehatan, Tjandra meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak, khususnya ketika berada di kawasan yang berdekatan dengan lokasi kebakaran.
Warga yang terpaksa harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan pelindung pernapasan yang sesuai.
“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” ujarnya dilansir dari Antara.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjelaskan, salah satu ancaman utama dari asap karhutla adalah partikel halus PM2.5.
Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai alveolus paru-paru.
“Karena kecilnya partikel ini maka dapat masuk jauh ke dalam paru ke bagian yang disebut alveol paru, dan dampaknya dapat menyebar melalui peredaran darah dan mencetuskan terjadinya inflamasi atau peradangan,” jelas Tjandra.
Selain PM2.5, asap karhutla dapat mengandung sejumlah senyawa seperti nitrogen dioksida, ozon, hidrokarbon aromatik, hingga berbagai bahan organik hasil pembakaran.
Campuran zat tersebut dapat membentuk polutan yang berpotensi membahayakan kesehatan jika terhirup dalam jumlah tertentu.
Tjandra mengingatkan masyarakat tidak mengabaikan gejala kesehatan setelah terpapar asap karhutla. Gangguan pernapasan maupun nyeri dada menjadi tanda yang perlu diperhatikan dan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Di tengah meluasnya dampak karhutla, Kementerian Kesehatan melaporkan kebakaran hutan dan lahan hingga Jumat (21/8/2026) telah berdampak terhadap 87 kabupaten/kota di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar kabut asap akibat karhutla.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Risiko tersebut perlu mendapat perhatian lebih pada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma dan penyakit paru-paru. (ant/saf/ham)

NOW ON AIR SSFM 100

