Menurut Budi, apabila terhirup dan masuk ke tubuh, paparan tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pada perkembangan alat reproduksi dan alat kelamin bayi.
Karena itu, ibu hamil yang tinggal di wilayah terdampak asap karhutla diminta sebisa mungkin mengurangi paparan. “Jadi sebisa mungkin ibu hamil harus menghindari asap-asap dari karhutla,” ujarnya.
Budi menyarankan ibu hamil menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar serta membatasi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara memburuk.
Selain itu, ia menilai kebijakan bekerja dari rumah atau work from home dapat dipertimbangkan bagi ibu hamil yang tinggal di daerah terdampak asap karhutla.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi paparan langsung terhadap polusi, sekaligus menjaga kesehatan ibu dan janin selama periode kebakaran hutan dan lahan. (ant/bil/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

