Sedangkan Dr. Khairiyadi Anggota UKK Respirologi IDAI menjelaskan, data yang dipaparkan bersifat lokal dari rumah sakit terdampak karhutla dan Dinas Kesehatan.
Jumlah kasus pneumonia yang didapatkan tercatat sebagai ISPA per minggu, dengan puncak peningkatan di bulan September. Data tidak bisa diklaim secara spesifik pneumonia karena tercampur dengan kasus lain.
“Daerah yang terdampak paling banyak pertama yakni Banjarmasin, kedua Banjarbaru,” katanya.
Ia menyebutkan, asap karhutla mengandung ozon dan karbon monoksida. PM2,5 dari asap hutan lebih berakibat buruk dibandingkan PM2,5 letusan gunung berapi. Anak-anak lebih rawan karena saluran pernapasan kecil dan frekuensi napas lebih cepat.
“Bahkan dengan adanya asap yang masuk ke rumah, walaupun sudah dipasangi 3 air purifier, tetap masih terkena. Efek dari PM10 nya akan melemahkan saluran napas. Dampaknya asma, rentan infeksi, perkembangan imun terganggu jangka lama,” jelasnya.
NOW ON AIR SSFM 100

